TERDIAM DIATAS PENDERITAAN UIGHUR

Oleh : Listianah
(Mahasiswi)

Uighur adalah salah satu etnis minoritas muslim di Negara Cina. Besarnya kekuasaan cina dalam bidang ekonomi dunia, dan menjadi pemodal terbesar diberbagai Negara berkembang membuat dia mendapat tempat dan suara di Negara penerima modal. Tidak menutup kemungkinan pula di negara berkembang, muslim terbesar seperti Indonesia.
Melihat beredarnya berita tentang begitu sadisnya pemerintah Cina dalam tindakan kejam dan persekusi atas etnis minoritas Cina Uighur, menorehkan luka dan kecaman dari berbagai dunia, terlebih lagi negara muslim seperti Indonesia, Arab Saudi, Turki, dan negara muslim lainnya. Dan tentunya akan mengundang respon tidak baik bagi kaum muslim di seluruh dunia.

Kekejaman Cina terhadap etnis muslim Uighur memang sudah menjadi berita lama, namun kekejaman dan diskriminatif terhadap etnis Uighur sudah berjalan sejak lama. Keadilan dan kebebasan dalam beragama dan menjalankan kepercayaan sebagai umat islam tidak diberi ruang oleh pemerintah Cina. Hingga persekusi dan paksaan serta tindakan kekerasan tertoreh pada muslim Uighur menjadi sikap yang dipilih bagi mereka yang tetap kokoh pada agamanya.
Meskipun mendapatkan kecaman dari berbagai pihak negara lain, khususnya negara-negara Islam, tidak membuat pemerintah Cina lantas takut dan memberikan kebebasan terhadap muslim Uighur. Pememrintah Cina justru berdalih atas tindakan dan isu berita yang beredar di berbagai penjuru dunia.

Cina disebut berupaya membujuk sejumlah organisasi Islam di Indonesia seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, media Indonesia, hingga akademis agar tak lagi mengkritik dugaan persekusi yang diterima etnis minoritas Muslim Uighur di Xinjiang. (m.cnnindonesia.com/12/12/2019)
Kita tahu bahwa banyak negara Islam yang mengetahui penderitaan sesama suadara muslim. Namun tidak bisa berbuat banyak untuk bisa melepaskan mereka dari jeratan duka di negaranya. Pemerintah yang sudah terlibat kontrak bisnis, ikut andil dalam diamnya saudara sendiri, karena tidak memiliki wewenang maupun suara untuk sekedar meringankan beban derita atas kekejaman pemerintahannya sendiri.
Tidak banyak yang bisa kita lakukan khususnya pemilik negara ini, meskipun sekedar mengecam tindakannya pun tak kuasa. Terdiam, tidak bisa ikut campur dalam pemerintahan negara lain. Sekalipun lontaran pengecaman dari pihak negara lain pun tidak bisa untuk meringankan beban meraka yang dipaksa dan disiksa oleh keputusan negaranya sendiri.

Ada sebuah riwayat, dalam riwayat muslim. Bawasannya ada seorang wanita yang mendzolimi seorang kucing hingga mati, mampu mengantarkan wanita tersebut disiksa di dalam neraka. Lihatlah bagaimana Allah menghisab wanita tersebut dengan hisab yang begitu berat atas perlakuannya terhadap seekor kucing. Apalagi jika seseorang mendzolimi dan menyiksa seorang hamba dengan perbuatan keji.
Kita sebagai seorang muslim, tentunya sangat sedih melihat saudara seiman kita dalam keadaan sakit dan menderita. Saudara muslimah kita yang dipaksa menikah dengan orang kafir, melepas pakaian hijabnya, melarang untuk menjalankan agamanya, dipaksa murtad, disiksa serta perlakuan tidak manusiawi lainnya.

Semua orang terdiam, tidak kuasa atas keadaan ini. Begitu juga negara-negara Islam untuk sekedar menolong atas dasar saudara seiman pun begitu sulit. Sedih memang, apalah daya besar kekuatan saudara muslim saat ini yaitu hanyalah do’a. Sebagai penguat ujian yang mereka hadapi atas kedzaliman yang mereka rasakan.
Hanya dengan bersatu dalam komando pemerintahan Islam, segala kebijakan akan berbuah keadilan dan tidak ada kedzaliman. Tersebab sesama muslim namun terpisah oleh sekat berupa negara yang mana sistem, kebijakan serta pemerintahan yang berbeda, hanya akan membuat pesakitan. Sekat-sekat yang ada saat inilah yang membuat kita, khususnya kaum muslim tidak mampu untuk saling menggandeng satu sama lain.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Innalillahi,  ODHA Meningkat!

Read Next

Hati-hati HIV Mengancammu! Waspadalah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *