Breaking News :

October 14, 2019

Sistem Sekuler Melahirkan Individu Bermental Penipu

Oleh Fitriani S.Pd (Anggota Komunitas BMI Baubau)

Kasus penipuan jutaan rupiah tentu bukanlah lagi menjadi sesuatu yang baru di negeri ini. Tentu, kita masih ingat bagaimana kasus penipuan yang dilakukan oleh First Travel, salah satu travel umrah di negeri ini. Sebanyak 63.310 orang gagal naik umroh. Tidak hanya itu saja, uang mereka juga melayang. Tidak main-main, totalnya mencapai Rp 905.333.000.000.(Liputan6.com, 30/05/2018)

Kasus penipuan juga terjadi di Baubau, Sulawesi Tenggara. Dikutip dari Butonpos.fajar.co.id ( 26/08/2019), Kurang lebih 80 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Buton (UMB) tertipu. Motifnya melalui pembayaran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) yang disetorkan ke bank melalui perantara. Rupanya uang tersebut tidak masuk ke rekening kampus. Na’asnya, praktek penipuan ini telah berlangsung sejak tahun 2016. Kejadian tersebut terkuat saat salah seorang mahasiswa melakukan penawaran untuk semester VII, namun pihak kampus tidak memberikan dikarenakan mahasiswa tersebut tercatat belum membayar SPP semester sebelumnya. Mahasiswa itupun kaget, karena seingatnya setiap semester selalu membayar, dan slipnya selalu di setor ke pihak kampus.

Usut punya usut, ternyata semua pembayaran yang telah ia lakukan dengan mempercayakannya pada salah satu rekan mereka selama ini tidak terinput oleh pihak kampus. Rupanya rekan mereka alias si pelaku, tersebut membuat slip palsu yang mirip slip pembayaran SPP yang dikeluarkan kampus UMB.

Kasus inipun telah sampai ke Polres Baubau. Melalui Kasubag Humas Iptu Suleman membenarkan adanya laporan kasus penipuan SPP di UM Buton tersebut. Saat ini, pihaknya sudah ada langkah-langkah pemeriksaan terhadap saksi-saksi maupun pihak terlapor yang berstatus mahasiswa. Selanjutnya pihaknya akan menggelar perkara.

Akar Masalah

Uang adalah segalanya. Itulah prinsip mayoritas individu dan masyarakat di sistem saat ini. Prinsip inilah yang kemudian mengikis akidah dan keimanan. Sehingga godaan untuk melakukan penipuan selagi ada peluang tentu begitu menggiurkan. Inilah pemandangan yang terjadi pada masyarakat dalam balutan sistem sekularisme kapitalisme yang diterapkan saat ini. Menjadikan harta sebagai tujuan hidup, tanpa pandang halal atau haram. Cara instan dengan bermodus membantu berbungkus penipuan pun dilakukan.

Parahnya modus ini dilakukan sudah lebih dari dua tahun tanpa pernah berpikir bagaimana nasib korban, yang merupakan teman mahasiswanya sendiri. Ya, sistem sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan telah melahirkan individu bermental penipu tanpa pandang bulu.
Hal ini disempurnakan dengan susahnya mencari lapangan pekerjaan, sementara biaya hidup semakin mahal harganya. Belum lagi sumber daya alam negeri yang hampir semuanya di kelola oleh asing. Negara abai dalam menjalankan perannya untuk menyelesaikan persoalan masyarakat khususnya dalam hal ini bidang ekonomi. Sebab sejatinya, sistem ekonomi kapitalis menolak peran negara dalam perekonomian. Prinsip ini lahir dari konsep laizes faire, yang artinya: biarkan semuanya berjalan sendiri tanpa ada campur tangan pemerintah dalam perekonomian.

Dampaknya kita bisa melihat saat ini sebagian kecil orang yang dapat mempengaruhi dan menikmati barang/jasa serta sumber-sumber ekonomi, sedangkan sebagian besar orang lainya tidak dapat. Sehingga menghasilkan kesenjangan ekonomi, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Inilah pula yang membuat individu dalam masyarakat dilatih untuk menghalalkan segala macam cara agar biaya hidupnya tetap terpenuhi, termasuk dengan melakukan penipuan puluhan juta sekalipun.

Kembali pada Islam secara Kaffah
Islam adalah dien (way of life), jalan hidup yang turun ke dunia ini dengan seperangkat aturan yang menjadi solusi bagi seluruh permasalahan manusia. Menerapkannya akan mendatangkan rahmat sedang meninggalkannya akan menyebabkan kerusakan. Sehingga dari sini, aturan Islam bisa diemban oleh umat manapun, kecuali dalam urusan ibadah mahdhah disesuaikan dengan keyakinan agama masing-masing. Namun selain urusan ibadah, Islam sangat relevan untuk diterapkan di masa kekinian, seperti dalam hal muamalah, hukum, pemerintahan termasuk ekonomi dan lain sebagainya. Apalagi melihat kondisi carut marut masyarakat dengan permasalahan yang kian akut. Maka, Islam patut dan harus untuk diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Dan tidaklah penerapan tersebut kecuali ditegakkan dalam sebuah institusi negara yaitu Khilafah.

Karena dengan penerapan Islam secara kaffahlah, kasus penipuan akan terhenti. Masyarakat akan terbina untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT, menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Negara juga akan menjalankan perannya untuk mengatur urusan umat. Mengelola Sumber Daya Alam dengan baik dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat. Sehingga individu dalam masyarakat tidak akan memiliki alasan lagi untuk melakukan praktik penipuan yang merugikan banyak orang. Wallahu A’lam Bissawab. [om]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Bendera Tauhid Bendera Keimanan

Read Next

Hijrah Menuju Islam Kaffah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *