Siapakah ‘Penjahat’ Rakyat Sebenarnya?

Oleh: Putri Hanifah (Mahasiswi Sastra Arab Universitas Negeri Malang)

Siapa yang tidak tahu film Sexy Killers? Film dokumenter berdurasi satu jam dua puluh menit tersebut sempat trending bulan lalu, tepat lima hari sebelum pilpres dimulai, yang akhirnya memberikan impact kepada sebagian orang untuk berpikir kembali siapakah kandidat yang akan dia pilih atau bahkan sampai mempengaruhi untuk tidak menyumbangkan suaranya ketika pemilihan umum berlangsung.

Ada yang memilih menontonnya setelah pemilihan umum dilaksanakan, sebab takut jika nanti pilihan hatinya berbalik kepada paslon yang lain. Bahkan ada juga yang mengambil hikmah dari permukaannya saja seperti “Kita itu harus hemat listrik Rek!” ya meskipun tidak salah juga mengambil hikmah seperti itu.

Bahkan ketika saya diskusi dengan beberapa mahasiswa, mereka mengutarakan meski sudah menonton film tersebut dan melihat banyak kerusakan di dalamnya namun tetap akan memnyumbangkan suaranya dengan alasan memberatkan “wakil presidennya”. Karena paslon satu diwakili oleh Kiai, sedang paslon dua diwakili oleh seorang Pengusaha yang didukung oleh partai-partai Islam yang eksis di negeri ini.

Terlepas dari perbedaan penafsiran film dokumenter tersebut, sebenarnya film tersebut sedang membicarakan konspirasi antara penguasa dan pengusaha, dimana penguasanya juga merangkap menjadi pengusaha. Tidak dapat dipungkiri kedua paslon terlibat dalam lingkaran setan yang saling terhubung. Sebab, kalau tidak seperti ini bagaimana?

Keduanya sama-sama membutuhkan dana untuk membayar mahalnya harga demokrasi ini. Kalau tidak seperti itu akhirnya terpaksa hutang kepada ‘pengusaha kelas kakap’ yang endingnya juga akan merugikan rakyat lagi. Biasanya syarat agar dihutangi oleh pengusaha kelas kakap tersebut harus membuatkan undang-undang yang menguntungkan mereka.

Pemilu kemarin saja membutuhkan dana sebesar 25 triliun, apalagi biaya kampanyenya. Padahal dibalik besarnya dana yang digelontorkan untuk menyelenggarakan proses pemilihan umum tersebut terdapat ratusan petugas pelaksana pemilu berguguran sedangkan ribuan lainnya jatuh sakit, sudahlah seperti itu masih saja terdapat fakta di beberapa daerah surat suara yang sudah dicoblos dari sananya. Kalau sudah dicoblos semua, lalu untuk apa diadakan pemilu?

Jadi siapakah penjahat sebenarnya? Kerap kali ketika sumber daya alam negeri ini dijarah, kita sibuk menyalahkan asing dan aseng. Meski hal tersebut benar adanya, tetapi setelah Film Sexy Killers ditayangkan tiap kita kaget bukan kepalang. Ternyata pelakunya bukan hanya ‘asing dan aseng’ saja, melainkan mereka juga bagian dari bangsa Indonesia sendiri. Itu baru menyoroti satu aspek saja ‘batu bara’ belum lagi aspek yang lain.

Orang-orang yang kita pilih menjadi wakil rakyat, justru malah mencelakakan rakyat sendiri, sebuah ironi yang tidak pernah terbayang dalam pikiran kita. Baik dari paslon satu dan paslon dua sama-sama beririsan dalam lingkaran kekuasaan yang penuh konspirasi.

Ketika keduanya mendapatkan pertanyaan tentang masalah pertambangan ini. Hasilnya adalah, Bapak Jokowi mengatakan bahwa tinggal 1 sampai 3 lagi masalah tambang yang belum diselesaikan, selanjutnya akan diserahkan ke Pemerintah Daerah setempat dengan pengawasan dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sedangkan Bapak Prabowo menyatakan setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Bapak Jokowi, dan itu juga akan dilakukannya apabila menjadi Presiden RI. Kedua tokoh nasional ini selalu memiliki jalan yang berbeda untuk pemecahan masalah dan meningkatkan perekonomian bangsa, namun satu suara terkait masalah tambang. Ini menjadi satu-satunya problem yang solusinya disepakati oleh kedua orang seteru abadi ini.

Kalau kita melihat solusi yang disuguhkan oleh pembuat film tersebut, yakni mengganti sumber tenaga listrik dengan energi terbarukan, seperti angin, matahari dan air. Matahari, dengan panel surya, bisa dimanfaatkan, meski dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk membangunnya. Indonesia yang berada di garis khatulistiwa menjadikan daerah tropis ini memiliki banyak sinar matahari yang sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik.

Tapiapa daya, dalam hal ini saja pemerintah memilih menggunakan bahan baku yang paling murah (batu bara) sebagai biaya produksi listrik, tanpa memikirkan dampak kerusakan lingkungan dan masyarakat sekitar.

Maka siapakah penjahat rakyat sebenarnya? Kapitalisme jawabannya. Begitulah tabiat kapitalisme, mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal sekecil-kecilnya. Walhasil lingkungan dan masyarakat sekitarlah yang kena imbasnya.

Padahal Rasulullah telah bersabda: “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air dan api” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Baihaqi, Ibn Abi Syaibah).

Hadits tersebut menyatakan bahwa kaum Muslim (manusia) berserikat dalam air, padang rumput, dan api.  Dan bahwa ketiganya tidak boleh dimiliki oleh individu. Dan tidak ada seorang pun yang boleh menghalangi seseorang dari pemanfaatan itu.  Ini seperti pemanfaatan jalan umum dari sisi berjalan di jalan itu.

Meski hadits itu menyebutkan tiga macam (air, padang rumput dan api), namun disertai ‘illat yaitu sifatnya sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan secara bersama oleh suatu komunitas.  Kaedah ushul menyatakan “al-hukm yadûru ma’a ‘illatihi wujûdan wa ‘adaman (ada dan tidaknya hukum mengikuti ada dan tidaknya ‘illat)”.

Sehingga sesuatu apa saja (air, padang rumput, api, sarana irigasi, dan selainnya) yang memenuhi sifat sebagai fasilitas umum yang dibutuhkan secara bersama oleh komunitas atau masyarakat yang jika tidak ada masyarakat akan berselisih dalam mencarinya, maka manusia berserikat di dalamnya.

Artinya sesuatu itu merupakan milik umum di mana manusia berserikat dalam memilikinya. Sesuatu itu tidak boleh dimiliki atau dikuasai oleh individu, beberapa individu ataupun negara sekalipun. Individu, sekelompok individu atau negara tidak boleh menghalangi individu atau masyarakat umum memanfaatkannya, sebab harta semacam ketiganya itu adalah milik mereka secara berserikat.

Namun, agar semua bisa mengakses dan mendapatkan manfaat dari ketiganya, negara mewakili masyarakat mengatur pemanfaatannya, sehingga semua masyarakat bisa mengakses dan mendapatkan manfaat secara adil dari harta-harta milik umum itu.

Hanya dengan diterapkannya sistem Islam lah yang mampu memberikan pengaturan pengelolaan sumber daya alam yang hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat baik dalam bentuk fasilitas atau pelayanan berupa pendidikan dan kesehatan, serta hal lainnya yang menjadi kebutuhan pokok rakyat. [om]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Untuk Kawan Mahasiswa…

Read Next

Say No To Drugs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *