Selepas Ramadhan, Hikmah Apa yang Dapat Kita Ambil?

Oleh: Putri Hanifah (Mahasiswi Sastra Arab Universitas Negeri Malang, Fasilitator Rumah Tahfidz Balita dan Anak)

Tepat tiga bulan sudah kita ditinggalkan oleh tamu agung nan mulia bernama Ramadhan. Ia akan tetap berjalan meninggalkan kita, tidak peduli kita maksimal di dalamnya atau tidak, tidak peduli kita mampu meraih kesempatan-kesempatan emas di dalamnya atau tidak. Ramadhan akan pergi, sebab itu adalah sunnatullah.

Maka sangat disayangkan seandainya kemarin kita tidak berhasil memperoleh kebaikan dari tamu agung nan mulia ini.

Hal ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Sungguh telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada suatu malam yang nilai amal padanya lebih baik dari seribu bulan. Karena itu siapa saja yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh dia tidak akan dapat memperoleh kebaikan selama-lamanya” (HR. an-Nasai dan Ahmad)

Nggak kebayang, bagaimana rasanya nggak bakal dapat kebaikan selama-lamanya. Padahal kalau kita mau menelusuri, banyak sekali hadis yang menyebutkan ketika Ramadhan tiba akan terbuka kesempatan emas yang tidak kita temui di bulan-bulan lain. Seperti:

1. Ampunan dari Allah atas segala dosa-dosa dan kesalahan yang kita perbuat, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala (dari Allah Subhanahu wa Taala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Kesempatan berdo’a yang tidak akan ditolak oleh Allah, “Tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak, Imam yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan orang yang teraniaya/terzalimim “ (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majjah dari Abu Hurairah)

3. Allah beri bonus berlipat ganda di bulan ini, “Setiap amal anak adam dilipatgandakan pahalanya. Tiap satu kebaikan, dilipatkan 10 kali lipat hingga 700 kali lipat.” (HR Bukhari Muslim)

4. Bagi orang yang istiqomah sampai akhir, Allah hadiahkan malam lailatul qadr, yang kebaikannya melebihi seribu bulan. Sesunguhnya kami telah menurunkanya (Al-Qur’an) pada malam qadr (kemulian) (1) Dan tahukah kamu apakah malam qadr itu? (2) Malam qadr itu lebih baik dari seribu bulan (3) Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (jibril) dengan izin tuhanya untuk mengatur semua urusan (4) Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar (5) (Q.S al-Qadr: 1-5)

Uniknya, kalimat lailatul al-qadr diulang kembali setelah ayat pertama, yaitu pada ayat kedua dan ketiga. Padahal, secara kajian bahasa arab bisa saja pada dua ayat tersebut cukup menggunakan dlamir (pronomina) yang merujuk pada kalimat lailatul al-qadr pada ayat pertama, tanpa mengulangnya pada ayat kedua dan ketiga.

Hal ini ternyata bertujuan untuk menunjukkan kepada kita akan keagungan malam Lailatul Qadr, sehingga kalimat tersebut perlu diulang agar pesan bahwa keagungan malam Lailatul Qadr tersebut meresap ke dalam hati kita.

Kalau boleh merangkum, hikmah yang dapat kita ambil selepas ramadhan ini adalah siapapun yang bersinggungan dengan Al Qur’an akan mulia dan Istimewa. Bulan Ramadhan, yang di dalamnya ada malam lailatul qadr menjadi istimewa di antara malam lainya karena pada malam itu, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an secara menyeluruh dari lauhil mahfudz ke langit dunia.

Kemudian Al-Qur’an tersebut disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama 23 tahun.

Rasulullah Muhammad SAW, menjadi rasul yang memiliki kedudukan yang paling tinggi dan mulia karena dibekali mukjizat Al Qur’an yang mulia. Begitupula dengan Jibril, malaikat yang menjadi perantara turunnya kalamullah. Pun juga dengan orang-orang yang membaca Al Qur’an dan mengamalkannya akan Allah beri hadiah yang tidak ada tandingnya

“Barang siapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa-apa yang ada didalamnya, maka Allah akan memakaikan kedua orang tuanya sebuah mahkota di hari kiamat nanti, yang cahaya mahkota tersebut, lebih bagus dari cahara matahari di rumah-rumah dunia. (HR. Abu Dawud)

Pada Intinya siapapun yang bersinggungan dengan Al Qur’an akan mulia dan istimewa, bahkan kertas sekalipun yang awalnya biasa saja, ketika terdapat ayat-ayat Al Qur’an di dalamnya, menjadi diletakkan ditempat yang sesuai, dibawa dengan hati-hati, ketika ada yang memperlakukan kertas tersebut tidak senonoh kita marah dan masih banyak hal lain apabila bersinggungan dengan Al Qur’an akan menjadi mulia dan istimewa.

Tidakkah kita mau untuk menjadi mulia dan istimewa dengan Al Qur’an?

Sayangnya kebanyakan dari kita suka mengambil ayat-ayat Al Qur’an yang kita sukai saja. Sedang yang tidak cocok dengan kita, ditinggalkan bahkan diabaikan. Padahal Islam bukan agama prasmanan, yang bisa diambil yang enak saja.

Ketika ada seruan kewajiban puasa “Kutiba ‘alaykum ash-shiyam’ kita semangat bukan kepalang. Sedang ketika ada seruan untuk berperang “Kutiba ‘alaykum al-qital” atau memberi hukuman setimpal “Kutiba ‘alaykum al-qishash” kita malas-malasan, loyo bahkan mencampakkan.

Padahal di dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 179). Sungguh Allah Maha Mengetahui, sedang kita tidak.
Ibarat handphone, yang lebih tau bagaimana perlakuan yang baik untuk handpone tersebut, bagaimana cara mengatasi kerusakan handphone tersebut siapa? Produsen handphone itu sendiri bukan? Pun juga dengan kita yang tau baik buruknya kita, aturan yang terbaik untuk kita, siapa lagi kalau bukan pencipta kita, Allah?

Sejarah membuktikan selama empat belas abad silam, kaum Muslim telah hidup bersama al-Quran. Mereka menjadikan al-Quran sebagai pedoman kehidupan. Hasilnya, kaum Muslim mencapai kejayaan. Islam tersebar ke hampir dua pertiga dunia. Kaum Muslim pun memimpin dunia berkat tunduk pada al-Quran.

Maka tidak selayaknya al-Quran sekadar menjadi hiasan di lisan kita. Hendaknya kita menjadikan hukum-hukum al-Quran sebagai aturan dalam kehidupan kita. Sungguh kita akan dihisab di Akhirat tentang al-Quran; apakah kita memberlakukan isinya dalam kehidupan ataukah kita menelantarkannya? [om]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Dakwah Menembus Batas Ruang dan Waktu

Read Next

Makna Radikal Terkontaminasi Sekuler

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *