Breaking News :

October 14, 2019

Selamat Datang di Dunia Kampus, Dik!

Oleh: Putri Hanifah (Mahasiswi Sastra Arab Universitas Negeri Malang, Fasilitator Rumah Tahfidz Balita dan Anak)

Tak terasa bulan Agustus sudah memasuki angka belasan, apa kabar mahasiswa lama? Sudah puaskah liburannya? Meski masih kurang jatah liburnya perkuliahan akan tetap dimulai sebentar lagi. Pun dengan adik-adik mahasiswa baru, mereka mulai menapaki karir awalnya di dunia kampus.

Selamat datang di dunia kampus, Dik! Bagaimana rasanya jadi mahasiswa baru?
Konon kata orang kalau Malang mulai dingin, tandanya mahasiswa baru akan segera datang. Benar saja ketika mahasiswa baru mulai datang, Kota Malang sedang mengalami transisi musim menuju musim kemarau. Sehingga wajar jikalau suhu di Kota Malang bisa mencapai 15°.

Selamat datang duta-duta pembaharu. Satu gerbang sudah terbuka untuk berproses menjadi insan cendekia. Kalian adalah salah satu dari sekian juta orang pilihan yang beruntung yang mendapatkan kesempatan belajar lebih tinggi lagi setelah tamat dari dunia jenjang wajib belajar selama 12 tahun. Betapa banyak teman-teman kita yang belum di izinkan untuk duduk di bangku kuliah seperti kalian? Bukankah patut disyukuri dan diapresiasi langkah kalian telah sampai di tahap ini?

Menjadi mahasiswa memang suatu hal yang membanggakan dan patut untuk dinikmati dik, kalian akan mengenal suasana baru, mendapat kenalan baru, pelajaran baru, pokoknya semua serba baru. Tapi tidak setiap orang mampu dan bahkan mau diposisi menjadi seorang mahasiswa lho.

Beberapa faktor yang melatarbelakanginya, salah satu faktor terkuatnya adalah ekonomi. Meski kian hari ada harga yang perlu dibayar untuk duduk di perguruan tinggi, namun tetap saja diminati. Buktinya dari tahun ke tahun jumlah pendaftar SNMPTN dan SBMPTN semakin meningkat.

Jadi jangan di sia-siakan kesempatan emas duduk di perguruan tinggi itu dik, empat tahun itu tidaklah lama. Bentuk tidak menyia-nyiakan itu bisa kita mulai dengan bersungguh-sungguh menjalani amanah baru yang Allah titipkan di pundak.

Kalau saya boleh kilas balik, Januari 2018 lalu dik ada peristiwa mengejutkan dik. Salah satu mahasiswi PTN di Malang nekat membuang bayinya di saluran irigasi. Dikira bayi adalah sampah? Kok enak sekali main buang-buang bayi. Doyan nangka tapi tidak mau getahnya. Hmm.. Ketika saya menjadi mahasiswa baru seperti kalian, tahun 2017 juga banyak sekali berita mahasiswa bunuh diri karena soalan asmara, hutang piutang dan skripsi yang tidak kunjung selesai.

Padahal Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, kemudian membunuh dirinya, maka dia di dalam neraka Jahannam menjatuhkan dirinya dari sebuah gunung, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Dan barangsiapa meminum racun kemudian membunuh dirinya, maka racunnya akan berada di tangannya, dia akan meminumnya di dalam neraka Jahannam dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya. Dan barangsiapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya akan berada di tangannya, dia akan menikam perutnya di dalam neraka Jahannam, dia tinggal lama dan dijadikan tinggal lama selamanya di dalam neraka Jahannam selama-lamanya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 5778; Muslim, no. 109; lafazh bagi Al-Bukhâri]

Kalau kita mau merunut munculnya masalah-masalah diatas akan kita temukan akar masalahnya tidak lain dan tidak bukan karena paham sekulerisme, yang memisahkan peran agama dari kehidupan. Sehingga soalan pendidikan isinya cukup pendidikan saja, tidak perlu bawa-bawa agama. Terdapat jurang dikotomi sangat dalam antara ilmu dunia dan agama. Seolah-olah seperti tidak ada titik temu diantara keduanya. Padahal kalau kita mau melihat lebih jauh bukankah proses penciptaan manusia sebelum ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan barat, semua sudah dikabarkan Allah lewat Al-Qur’an 1400 tahun yang lalu?

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu, Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal daging, dan segumpal daging itu, Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al-Mu’minuun: 12-14)

Akhirnya ketika sekulerisme menjadi asas dalam segala hal banyak intelektual muda tapi tersandung korupsi, moralnya semakin bobrok, lulus menjadi pengangguran dan lain sebagainya.

Sebenarnya kita memiliki PR besar kan untuk menjadi agent of change, sosial control dan iron stock bagi bangsa dan negeri ini? Kalau seperti ini kondisinya, hadirnya mahasiswa bukannya menyelesaikan masalah, tapi ini justru menambah masalah.

Di sisi lain ketika mahasiswa ingin mengenal Islam, ingin mengenal Allah lebih jauh lagi justru malah dituduh radikal dan makar. Orang-orang sibuk menjual narasi radikal, tapi lupa bahwasanya mahasiswa titahnya memang berfikir sampai ke akar-akar.

Belajar dari sejarah, tentu kita tidak asing dengan nama Ibnu Sina. Ulama, cendekiawan, bapak kedokteran modern, penulis produktif yang menelurkan banyak karya di bidang kedokteran yang saat ini masih harum namanya di telinga kita. Atau Al Khawarizmi? Penemu angka nol dan aljabar. Atau tidakkah kita ingat Fatimah Al Fihri? Muslimah pendiri universitas pertama di dunia. Mereka adalah ilmuwan-ilmuwan terbaik yang lahir dari rahim sistem Islam, yang mengerahkan potensi akal dipandu dengan cahaya keimanan dalam menemukan kebenaran.

Maka mudah sekali ketika kita dipandu oleh Islam untuk menjalankan peran mahasiswa sebagai agent of change, sosial control dan iron stock bagi bangsa dan negeri ini. Sejarah telah membuktikan di tangan generasi mudalah perubahan-perubahan besar terjadi, dari zaman nabi, kolonialisme hingga zaman reformasi, pemudalah yang menjadi garda depan yang merubah kondisi bangsa.
Lantas sekarang apa yang bisa kita lakukan dalam memenuhi peran iron stock tersebut?

Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi akademisi intelektual yang hanya duduk mendengarkan dosen di dalam ruangan perkuliahan. Kita harus memperkaya diri kita dengan pengetahuan baik dari segi keprofesian maupun kemasyarakatan serta turut serta dalam menyuarakan kebenaran. [om]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pacaran Buah Sistem Kapitalis

Read Next

BUMN Disuruh Mengalah, Swastanisasi Menguat?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *