Polemik Penistaan Agama di Negeri Sekuler

Oleh Yulia Rizyan (Alumni Revowriter Chapter Banda Aceh)

Lagi, seolah tak pernah habisnya negeri ini kembali dilanda kasus penistaan agama terhadap ajaran Islam. Kali ini tak luput penghinaan terhadap manusia yang paling mulia Rasulullah Sallallahu’alaihi Wassalam.
Pada acara diskusi bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme” Sukmawati Soekarnoputri, putri proklamator Ir Soekarno bertanya mana yang lebih bagus Pancasila atau Al Qur’an? Tidak cukup disitu, dia melanjutkan pertanyaan pembanding kedua siapa yang lebih berjasa Soekarno atau Nabi Mulia Muhammad di abad 20?
Hal ini tentu kembali menciptakan kegaduhan di masyarakat dan kegundahan bagi umat Muslim. Sebelumnya Sukmawati juga telah melakukan hal yang sama terhadap penodaan agama dalam puisi berjudul “Ibu Indonesia” yang dibacakan Sukmawati di acara peringatan 29 tahun Anne Avantie Berkarya pada 2018.

Umat Islam yang merasa dirugikan atas pernyataan Sukmawati pun kembali melaporkan dirinya ke Polda Metro Jaya dan Bareskrim Mabes Polri dengan pasal yang disangkakan dalam seluruh Pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama (22/11/2019, kompas.com). Total lima laporan dilayangkan untuk Sukmawati.
Namun hal ini tentu tidak akan menyelesaikan masalah. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya aparat menghentikan penyelidikan pada banyak laporan terhadap dugaan penistaan agama. Penyelidik menyimpulkan tidak ada perbuatan melawan hukum atau tindak pidana dalam kasus tersebut.
Sukmawati juga kembali berkelit dan membantah dirinya menistakan agama Islam dan tak peduli laporan-laporan pihak yang merasa tersinggung dengan ucapannya. Menurutnya pemberitaan yang tersebar di media sosial telah diubah oleh ‘tangan-tangan jahil’ yang tak bertanggung jawab. Berikut pernyataannya “Saya merasa tidak bersalah, jadi ngapain musti minta maaf? Diteliti dulu dong kata-kata saya yang benar, yang bukan diubah ataupun diedit” (18/11/2019, detik.com).

Terkait pernyataan Ibu Konde Sukmawati yang mempersoalkan kedudukan Al Qur’an dan Rasulullah Sallallahu’alaihi Wassalam dibandingkan Pancasila dan Soekarno tentu telah membuka luka lama yang ia torehkan beberapa waktu lalu. Bagaimana bisa membandingkan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan sumber hukum bagi individu, masyarakat dan negara yang langsung diturunkan oleh Sang Khalik.
Sementara Pancasila hanyalah falsafah hidup berdasarkan produk akal, pikiran manusia yang tidak memiliki rujukan dan dasar lengkap untuk mengatur kehidupan. Standar halal haram pun tidak jelas dalam membuat aturan seperti persoalan riba, zina, miras dan pernikahan yang tentu belum bisa memberi kesejahteraan bagi umat manusia.
Begitu juga dengan membandingkan Muhammad Sallallahu’alaihi Wassalam, teladan bagi seluruh umat manusia. Nabi dan Rasul utusan Allah yang mempunyai sosok yang agung dan terpilih dengan kepribadian spiritual yang tinggi di mana pemikirannya mampu mempengaruhi dunia.

Michael H. Hart, pengarang buku “100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia” seorang Nasrani asal Amerika Serikat menempatkan Rasul di urutan pertama mengalahkan semua pembawa agama, ilmuwan, dan pemimpin manapun di dunia. Fakta menunjukkan, pengaruh kepemimpinan politik Nabi Muhammad selalu berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Butuh waktu 28 tahun riset untuk menyelesaikan buku tersebut.

Sementara Soekarno, bukanlah seorang Nabi, Rasul, Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut tabi’in, bukan pula Ulama Mujtahidin. Soekarno hanyalah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan dan perkataannya bukanlah dalil.
Soekarno merupakan seorang Proklamator Kemerdekaan Indonesia bersama Mohammad Hatta yang memegang peranan penting dalam upaya memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad dalam perjuangan kemerdekaan merupakan konstruksi berpikir yang tidak proporsional karena keduanya tidak perlu dibandingkan.
Tidak dibenarkan pula untuk merendahkan ajaran Islam dan membanding-bandingkan dengan selainnya. Rasulullah pernah bersabda: “Islam adalah agama yang tinggi, tidak ada yang lebih tinggi darinya.” Islam juga tidak pernah menghendaki permusuhan, kecuali memang jika dimusuhi terlebih dahulu.

Umat Islam sudah seharusnya bersikap terhadap kasus penistaan dengan menunjukkan pembelaannya terhadap Rasul dan tidak boleh diam. Wajar umat Islam langsung bereaksi untuk membela agama yang diyakininya. Kerusakan sistem sekuler menjadikan kasus penistaan agama seolah terus berulang. Mereka para penista akan kembali berulah dengan mengeluarkan statement yang menyerang kesucian agama Islam karena tidak ada solusi tuntas dalam negeri sekuler.

Dalam hal menyikapi para penebar fitnah penistaan agama, Islam tidak main-main. Para ulama salaf maupun ulama khalaf sepakat bahwa hukuman bagi penghina Al Qur’an, maupun penghina Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maupun ajaran yang dibawanya adalah hukuman eksekusi mati.
Bahkan banyak para ulama yang menulis khusus kitab-kitab yang berkenaan dengan sanksi hukum bagi penghina Al-Qur’an dan penghina Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta ajaran yang dibawanya. Tentu dengan menjalankan hukum Islam secara kaffah yang sesuai koridor akan menjadikan Islam Rahmatan Lil’alamiin.[]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Stop Isu Radikalisme! Penyesatan Ajaran Islam

Read Next

Menanamkan Kecintaan Kepada Nabi Sejak Dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *