Peran Negara Ditengah Serangan Virus Tak Kasat Mata

Oleh Ananda Dzulfikar (Anggota Komunitas Sahabat Taat Nganjuk)

Setelah adanya kasus dua warga Negara Indonesia yang terinfeksi covid 19 atau yang tebih populer dengan sebutan virus korona, pemerintah Indonesia akhirnya mulai mengambil kebijakan untuk menghambat penyebaran virus yang belum ditemukan vaksinnya tersebut agar tidak semakin meluas. Beberapa himbauanpun akhirnya diberlakukan termasuk menutup beberapa akses umum, seperti car free day, menutup tempat wisata dan meliburkan sekolah.
Selain menutup beberapa akses umum pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk melakukan beberapa tips atau anjuran agar terhindar dari serangan virus corona yaitu mengonsumsi obat herbal seperti jahe, dan meminum vitamin. Selain itu juga harus sering membersihkan tangan dan selalu memakai masker terutama bagi orang yang sakit. Tidak hanya itu, pemerintahpun juga menutup akses perjalanan keluar negeri untuk Negara yang paling banyak angka positif covid 19 seperti Korsel dan Italia.

Kebijakan dua mata pisau
Alih-alih pemerintah dinilai tanggap dan cekatan dalam menangani kasus virus corona ternyata ada kebijakan lain yang berkebalikan dari langkah integrative yang ditempuh oleh pemerintah. seperti yang kita ketahui, pemerintah memang menutup akses penerbangan dari Negara yang mengalami kasus covid 19 terbanyak, namun pemerintah masih membuka lebar untuk WNA yang berasal dari Tiongkok. Padahal Negara tersebut adalah sumber virus corona berasal. Pemerintah seolah ada kepentingan yang ingin tetap dijalankan dan tidak mau merugi dengan adanya penyebaran virus ini.
Belum selesai dengan pemerintah tidak mau merugi akibat hubungan ekonomi yang sedang dibangun dengan Negara Tiongkok, pemerintah juga tidak serius dalam mengendalikan naiknya harga masker dan beberapa tanaman toga. Hingga saat ini pun kedua barang yang melambung tinggi harganya masih saja sulit ditemukan.
Khilafah serius dalam menangani wabah menular

Islam selalu meunjukkan kelebihannya dalam menghadapi kasus yang ada, termasuk ketika Negara menghadapi kasus wabah penyakit menular. Seperti pada masa Rosulullah wabah kusta juga pernah terjadi. Untuk mengatasi wabah tersebut Rosulullah melakukan karantina terhadap penderita. Untuk memastikan perintah tersebut dibangun tembok disekitar daerah yang terjangkit virus. Peringatan kehati-hatian juga penyakit kusta juga dikenal luas pada masa itu. Sebaliknya, jika sedang berada ditempat yang terkena wabah maka dilarang untuk keluar dari sana.

Pada saat seperti ini peran sentral pemerintah yaitu menjaga warganya dari virus mematikan tersebut. penguasa tidak boleh abai dan lalai. Selain itu pemerintah juga memudahkan urusan pokok yang dibutuhkan rakyat ketika terkena imbas virus tersebut dengan ketersediaan fasilitas peralatan kesehatan dengan mudah. Wallahu’alam bisshowwab.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Malapetaka Generasi Milenial!

Read Next

Edan! Ribuan Turis Asing Bebas Masuk Indonesia!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *