Peran Ibu dalam Naungan Syariah

Oleh: Selvy (Mahasiswi Universitas Muslim Nusantara)

Puluhan kasus ibu membunuh anaknya sendiri kini semakin marak. Salah satunya seperti pada kasus di Jakarta Barat . Seorang ibu yang tega membunuh anaknya hingga tewas dengan menggunakan gelonggong air. Ibu tersebut mengaku menyiksa anaknya lantaran stres. Ia diancam akan diceraikan oleh sang suami apabila anaknya tidak terlihat gemuk. Akibatnya sang ibu mengambil jalan pintas untuk ‘’menggemukkan’’ anaknya dengan cara digelonggong air minum.

Kasus kekerasaan bahkan pembunuhan seperti ini bisa saja semakin meluas sebab, factor penyebab nya sendiri ialah ekonomi. ‘’Bagaimana mungkin bisa membuat gemuk dari masalah ekonomi, dalam rumah tangganya emang tidak mempunyai gizi yang cukup’’ ungkapnya. Lagi- lagi masalah ekonomi yang menjadi sumber masalah, gizi yang harusnya terpenuhi untuk sang anak, tidak bisa terpenuhi sebab ekonomi yang sulit, sehingga anak menjadi beban untuk keluarga.

Kemiskinan yang terjadi saat ini sesungguhnya merupakan dampak dari system ekonomi kapitalis. System ini membuat yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Dan dari factor ekonomi tersebut meluaslah permaslahan kehidupan, susahnya mencari lapangan pekerjaan, bahan – bahan pokok naik, bahkan sulitnya mendapatkan jaminan kesehatan. Akibatnya terjadilah masalah seperti diatas.

Belum lagi tidak adanya jaminan Negara terhadap kesejahteraan perempuan. Saat ini perempuan ataupun seorang ibu banyak dipaksa untuk membiayai hidupnya sendiri. Pemberdayaan perempuan kini membuat perempuan tersebut menjadi mandiri secara finansial. Akibatnya banyak perempuan yang abai akan tugasnya yaitu seorang ibu yang mendidik generasi, dengan demikian masalah kekerasaan dimasyarakat kita, khususnya kekerasaan dalam rumah tangga adalah factor dari system sekuler ini.

Maka konsep kehidupan yang ditawarkan oleh islam lah satu satunya yang layak dan benar. Sebab islam mengembalikan manusia baik laki-laki maupun perempun kepada fitrah penciptaanya. Laki-laki adalah qawawam bagi perempuan, arrijaalu qawwamuuna a’lannisa. Laki-laki dibebani oleh Allah SWT sebagai penanggung jawab dan pemimpin untuk melindungi dan memuliakan perempuan dan anak-anaknya.

Sementara Negara wajib bertanggung jawab memberikan jaminan kepada laki-laki agar dapat menjalankan tugasnya. Negara membuat berbagai kebijakan politik untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi laki-laki dan mengkondusifkan agar roda ekonomi terus berputar. Dalam islam laki-laki wajib berdaya bahkan Negara akan memaksa laki-laki untuk berdaya. Sebab tidak tempat bagi laki-laki untuk bermalas-malasan menunggu risky dari langit.

Dan peran pokok perempuan adalah sebagai seorang ibu, dan manajer rumah. Sebagai sorang ibu, kaum perempuan memegang peran penting dan strategis dalam mencetak generasi penerus umat yang memilki kwalitas terbaik. Seorang ibu memiliki peran dalam mendidik dan membina anak-anak mereka dengan akidah yang kuat yang akan melahirkan generasi yang tunduk pada syariat, dan siap untuk memperjuangkannya. Ia berperan membentuk anak-anaknya dengan jiwa kepemimpinan yang siap untuk memimpin umat menuju perubahan hakiki yaitu kebangkitan islam.

Inilah salah satu jaminan islam atas pemberdayaan laki-laki dan perempuan. Arah pemberdayaan serta kesejahteraan seperti ini tidak akan mungkin dilangsungkan dalam system kapitalis yang mengukur segalanya dari materi. Kesejahteran tersebut hanya dapat direalisasikan ketika system islam yang diterapkan, yaitu satu-satunya system yang berasal dari sang pencipta. Yang Mahatahu akan hamba-hambanya dan apa yang terbaik bagi setiap hambanya. Waallahua’lam bishowab

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

BPJS Naik, Solusi atau Malah Tambah Beban Rakyat Negeri Ini?

Read Next

Mengkritisi Redefinisi Busana Muslim (Cadar dan Celana Cingkrang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *