Moderasi Islam: Pelurusan, Perbaikan, atau Malah Pembelokkan?

Oleh: Zahro Al-Fajri

Khilafah dan Jihad kembali menjadi perbincangan di ranah pemerintahan. Kementrian agama berencana menghapus materi yang dirasa akan mengusik perdamaian Indonesia ini. Namun, wacana ini dibantah. Kemenag berkutik tidak akan menghapus meteri ini, tetapi akan merevisi materi khilafah dan jihad yang ada di pelajaran agama Islam. Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kemenag, Ahmad Umar mengatakan, Kemenag bukan menghapus materi khilafah dan jihad dari pelajaran. Sebab materi khilafah dan jihad yang tercantum dalam KMA 165 Tahun 2014 itu dinyatakan tidak berlaku dan telah diperbaiki dalam KMA 183 Tahun 2019 (9/12/19, republika.co.id).

Wacana kemenag ini ditolak oleh PGMI (persatuan guru madrasah indonesia). Ketua Umum DPP PGMI Syamsuddin menyatakan menolak rencana penghapusan seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad. Syamsuddin menyatakan, “Kalau itu bertentangan dengan Pancasila, karena negara kita berketuhanan yang Maha Esa, kalau jalur pendidikan agama, gak boleh dihapuskan dong,” ujar Syamsuddin (8/12//19, republika.co.id). Selain itu, ia juga menyampaikan jika penghapusan materi Khilafah dan jihad bukanlah cara untuk menghalau radikalisme. Bahkan ia menyampaikan jika sistem pendidikan madrasah di Indonesia dinilai baik dan menghasilkan akhlak yang baik pada siswanya dibanding sekolah biasa ( 9/12/19, www.arrahmah.com)

Moderasi Islam: Pelurusan, Perbaikan, atau Malah Pembelokkan?
Revisi materi khilafah dan jihad yang akan dilakukan bertujuan untuk menghalau paham radikalisme di tengah masyarakat. Dengan direvisinya ke dua materi ini, kemenag berharap muslim indonesia akan menjadi musllim moderat dan tercipta masyarakat madani. Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Umar, mengatakan, setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan. “Karena kita mengedepankan pada Islam wasathiyah,” kata Umar kepada Republika.co.id, Sabtu (7/12).

Kemenag berencana akan menghilangkan materi khilafah dan jihad dari pelajaran fikih. Kedua materi ini akan tetap ada pada materi sejarah namun porsinya juga dibatasi. Harapannya agar yang tergambar pada Islam adalah unsur “kedamaian” dan bukan peperangan.
Padahal, Khilafah dan Jihad dalam Islam bukan hanya fakta sejarah. Khilafah dan Jihad adalah bagian dari syariat yang harus dimaknai sesuai makna syar’inya. Pemaknaan yang mengedepankan akal manusia tanpa melihat makna syar’i akan merusak makna asli dari kedua syari’at ini sendiri.

Secara umum, definisi Khilafah adalah negara kaum Muslim yang mengurus urusan dunia dan agama mereka dengan hukum-hukum Allah. Negara tersebut merupakan satu-satunya negara kaum Muslim. Satu negara untuk seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Mengenai hukum mendirikannya, menurut seluruh ulama kaum Muslim, baik, Sunni, Syi’i, Khawarij, Mu’tazilah sepakat hukumnya wajib. Di kalangan ulama mu’tabar, tidak ada perbedaan pendapat tentang makna jihad, yaitu berperang. Meski jihad identik dengan perang, tetapi tidak semua perang berarti jihad. Berperang melawan penyimpangan penguasa (selama tidak masuk dalam kategori murtad), berperang melawan orang yang merampas kekuasaan, dan berperang untuk mendirikan Negara Islam juga merupakan bentuk peperangan, tetapi tidak termasuk dalam kategori jihad.

Makna syar’i inilah yang harusnya diajarkan di tengah para siswa. Mengubahnya berarti pembelokkan makna asli yang telah disepakati ulama mu’tabar dan menjauhkan umat muslim dari syari’at Islam. Selain itu, itu artinya adalah menjauhkan kaum muslim dari pelaksanaan ketaatan pada Allah SWT.
Pengurangan materi Khilafah dan Jihad pun akan semakin menjauhkan kaum muslim dari semangat perjuangan Islam yang dengan semangat itu pula negara ini diperjuangkan. Semangat jihad dan seruan takbir yang menghujam para pejuang kemerdekaan sedikit demi sedikit akan berkurang bahkan hilang dari para generasi muda. Padahal semangat itu yang menghantarkan bangsa ini menuju gerbang kemerdekaan.

Selain itu, ditambah kondisi rapuhnya akidah dan minimnya pengetahuan agama termasuk berkaitan dengan syari’at dan sejarah perjuangan Islam melalui Khilafah dan Jihad, akan semakin melemahkan mental perjuangan para generasi muslim. Padahal, Khilafah dan jihadlah yang menjadi senjata kaum muslim di masa lalu dalam penyebaran agama Islam hingga akhirnya Islm mampu menguasai hampir 2/3 dunia dan Indonesia menjadi salah satu wilayah yang merasakan indahnya Islam. Khilafah dan Jihad yang menjadi bagian syari’at inilah yang terus menerus ditegakkan oleh kaum muslim di masa lalu sehingga semangat penyebarluasan Islam tidak pernah padam. Caranya pun sesuai dengan syari’at, bukan s perang seperti gambaran perang ala barbar dan zionis saat ini. Namun, tatacaranya juga telah diatur dalam syari’at sehingga wilayah-wilayah yang dibebaskan merasakan indahnya Islam dan berbondong-bondong masuk Islam tanpa paksaan. Khilafah sebagai negara yang berdasarkan Islam pun, menjadikan syariat sebagai pondasi dalam mengeluarkan aturannyaa. Aturan yang ditegakkan bersumber dari Sang Pencipta sehingga akan sangat sesuai dengan manusia. Hingga akhirnya kesejahteraan yang didapatkan bagi seluruh masyarakat, baik muslim maupun non muslim.

Inilah makna Khilafah dan Jihad yang harus diluruskan di tengah kaum muslim. Perevisian tanpa dasar syar’i dan mengedepankan pemikiran manusia agar dirasa “pas” dengan kondisi saat ini akan menjadi pembelokkan makna syar’i yang bahkan bisa jadi malah bertentangan dengan makna asli. Bahayanya adalah kaum muslim akan semakin jauh dari Islam itu sendiri dan mengekor pemikiran yang tidak sesuai dengan Islam.

Oleh karena itu, hal ini tidak boleh terus dibiarkan karena akan merusak pemikiran generasi muslim. Perlu upaya pelurusan terus-menerus agar generasi muslim paham syari’at dan berusaha untuk memperjuangkannya karena ini adalah bagian dari konsekuensi keimanannya. Dakwah adalah jalan yang dicontohkan Rasulullah untuk meluruskan pemikiran umat. Maka dari itu, terus gelorakan Islam dan sebarkan pemikiran syar’i dimanapun berada.
Wa Allahu ‘alam

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Kartu Sakti Pengangguran Bergaji Fantastis

Read Next

Innalillahi,  ODHA Meningkat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *