Mengkritisi Redefinisi Busana Muslim (Cadar dan Celana Cingkrang)

Oleh: Qonita Aliyatunnuha (Mahasiswi PAI smst 7 IIM Surakarta)

Seperti diberitakan banyak media sejak dilantik sebagai Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi beberapa kali mengeluarkan pernyataan kontroversi yang berpotensi menimbulkan kegaduhan. Menag mewacanakan akan melarang penggunaan cadar atau niqab di instansi pemerintah. Fachrul menjelaskan, “Niqab itu tidak ada ayatnya yang menganjurkan memakai niqab, tapi juga tidak ada yang melarang. Tapi kita ingin menggarisbawahi bahwa pemakaian nikab itu tidak ada kaitannya dengan kualitas keimanan atau ibadah seseorang,” kata Fachrul dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid di Hotel Best Western, Mangga Dua Selatan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Rabu (30/10/2019).

Fachrul juga menambahkan bahwa cadar merupakan budaya beberapa suku di Arab. Menurut Fachrul, hanya sedikit orang di Arab dulu menggunakan cadar. Dalam merespon pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi bahwa niqab atau cadar merupakan budaya Arab, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain pun membantah.
“Niqab bukan pakaian adat Arab. Adat Arab sebelum Nabi Muhammad diutus adalah tabarruj, buka aurat. Bahkan saat thawaf mereka telanjang,” ujar Kyai Tengku dalam akun twitternya, Kamis (31/10/2019).
Kyai Tengku Zulkarnain kemudian mengatakan jika niqab atau cadar diperintahkan dalam Islam.

“Niqab atau cadar ada di surat al Ahzab ayat 59, lihat Tafsir Kemenag dan Terjamahan Qur’an Kemenag resmi. Madzhab Syafii hukumnya Wajib, ada yang sunnah,” terang Kyai Tengku.
Lucunya, setelah menyindir masalah busana di instansi pemerintah dan mewacanakan melarang pengguna niqab atau cadar untuk masuk ke instansi milik pemerintah (yang kemudian dibantahnya sendiri) kini Menag permasalahkan celana cingkrang PNS.
Ya, permasalahan Isu radikalisme dan pelarangan cadar serta celana cingkrang adalah sesuatu yang belakangan ini masif dibicarakan. Adanya isu ini, bahkan dikeluarkan oleh pejabat Pemerintah, akan membuat gaduh negara yang bisa berujung pada konflik. Masalahnya adalah Radikalisme yang digaung-gaungkan pemerintah selama ini tidak jelas apa indikator dan apa standarnya. Padahal telah banyak tokoh bahkan anggota legislatif yang menyatakan tidak ada hubungan antara pakaian dan radikalisme.

Menelaah lebih dalam definisi Cadar dan Celana Cingkrang dalam Islam
Cadar dan celana cingkrang adalah bagian dari syariat Islam. Namun umat muslim nampaknya belum semua faham akan hukum dan pensyariatan keduanya, sehingga sudah seharusnya sebagai seorang muslim kita mengkaji apa itu cadar dan celana cingkrang sesungguhnya dalam syariat Islam agar tidak salah kaprah dalam mendefinisikan dan mempersoalkan keduanya.

Dalam mengkritisi kalimat celana cingkrang, penyebutan istilah ini nampaknya kurang tepat, sebaiknya harus dikembalikan sesuai hadits pensyariatannya yakni kain yang di atas mata kaki. Ini jelas disyariatkan dalam Islam, terlepas dari siapa yang ingin mengamalkan atau tidak.
Penggunaan celana di atas mata kaki sudah pernah dibahas sejak zaman Rasulullah SAW, terdapat banyak dalil dan pendapat ulama terkait penggunaan celana tersebut sebagai salah satu pakaian sehari-hari, antara lain adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagai informasi yang sangat penting untuk diketahui jika celana diatas mata kaki atau celana cingkrang merupakan sunnah dan ajaran yang diberikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini lebih dikhususkan bagi anak laki laki, sementara untuk wanita diberikan perintah untuk menutup seluruh bagian telapak kaki. Hal ini bisa terlihat dari pakaian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu mengenakan celana diatas mata kaki seperti keseharian yang dilakukan beliau.
Kebalikan dari istilah cingkrang (celana di atas mata kaki) adalah Isbal. Isbal memiliki arti menjulurkan pakaian melebihi mata kaki, dan hal tersebut terlarang di dalam Islam karena hukumnya makruh atau bahkan diharamkan. Ada banyak dalil dari hadits Nabi Muhammad yang mendasari hal tersebut diantaranya hadits Bukhari no 3665, Muslim no 2085, Bukhari no 3485, Bukhari no 5787, Muslim no 106, Abu Daud no 4084 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud, Ibnu Maajah no.2892, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah dan Bukhari no 5788.

Dari beberapa dalil diatas memperlihatkan jika Islam melarang isbal atau mengenakan kain atau celana melebihi dari batas mata kaki baik dalam larangan sampai ke tingkat haram atau tidaknya. Sehingga sangat baik jika umat Islam mengindahkan larangan tersebut. Namun, memakai celana melebihi mata kaki hukumnya makruh apabila tidak didasari dengan tujuan sombong. Pada dasarnya, pakaian orang Islam yang beriman adalah setengah betis atau cingkrang. Namun jika ingin memakai yang melebihi maka tidak menjadi masalah asalkan tidak melewati kedua mata kaki karena akan dihukumi isbal dan terkena ancaman seperti beberapa hadits yang sudah diulas diatas. Oleh karena itu, menggunakan celana di atas mata kaki itu sama dengan berpakaian seperti orang beriman layaknya perintah Rasulullah SAW dan celana cingkrang itu bukanlah kekurangan namun menjadi simbol keimanan dan bukan berarti bid’ah namun ibadah.

Bercadar sendiri adalah konsep berhijab yang menutup seluruh tubuh, kecuali tangan dan wajah. Banyaknya kerusakan yang ditimbulkan oleh terbukanya wajah wanita seperti wanita akan menghiasi wajahnya sehingga mengundang berbagai kerusakan; hilangnya rasa malu dari wanita; tergodanya laki-laki; percampuran laki-laki dengan wanita; dan lain-lainnya membuat cadar memiliki tempat tersendiri dalam permasalahan fiqh. Memang ada varian penafsiran soal hijab/niqab di kalangan ulama, meskipun mayoritas menganggap berhijab dengan jilbab adalah sesuai perintah agama.

Jika disimpulkan dalil-dalil dari para ulama yang mewajibkan niqab maka dapat dikelompokkan pada beberapa point:

1. Menjaga kemaluan hukumnya wajib, sedangkan menutup wajah termasuk sarana untuk menjaga kemaluan, sehingga hukumnya juga wajib.
2. Perintah Allah dan Rasul-Nya kepada wanita untuk berhijab (menutupi diri) dari laki-laki selain mahramnya. Perintah hijab ini meliputi menutup wajah.
3. Perintah Allah dan Rasul-Nya kepada wanita untuk memakai jilbab. Jilbab ini meliputi menutup wajah.
4. Perintah Allah kepada wanita untuk menutupi perhiasannya, ini mencakup menutupi wajah.
5. Ijma yang mereka nukilkan.
6. Qiyas. Yaitu kalau wanita wajib menutupi telapak kakinya, lehernya, dan lainnya karena dikhawatirkan akan menimbulkan godaan, maka menutup wajah wanita lebih wajib.
7. Kebiasaan para wanita sahabat, termasuk Ummahatul mukminin, menutupi wajah mereka.

Dalam masalah niqab atau bercadar para ulama memang berbeda pendapat. Sebagian mengatakan wajib, yang lain menyatakan tidak wajib, namun merupakan keutamaan.

Penutup
Cadar dan cingkrang merupakan simbol yang merepresentasikan budaya kesalehan dalam Islam. Kesalehan sendiri merupakan hak-hak dasar manusia yang diyakini sebagai “system of belief” yang sakral. Negara harus mengapresiasi kesalehan seseorang jika tidak mengganggu sistem kepercayaan terhadap arus utama masyarakat.

Orang Islam yang belum sampai derajat alim atau Mujtahid, maka bagi mereka pendapat yang baik adalah merujuk pada pendapat ulama yang diyakini keilmuwannya. Sebab sebagian ulama menempatkan cadar wajib, Sunnah dan mubah. Indonesia yang mayoritas Mazhab Syafi’i, maka menutup wajah wanita itu adalah wajib dalam Mazhab tersebut.

Rezim saat ini terus menunjukkan sikap berlawanan dengan kehendak publik—khususnya umat Islam. Mereka hendak menyerang ajaran islam dengan beragam cara melalaui proyek deradikalisasi dan penyesatan makna syar’ie, oleh karena itu umat tidak boleh mendiamkan penyesatan pemikiran seperti ini. Radikalisme yang diartikan negatif, lalu diterjemahkan dalam simbol cadar dan cingkrang sudah melampaui batas negara mencampuri kehidupan masyarakatnya. Negara, sebagai bagian dari konsensus kontrak sosial bukan mempunyai hak tak terbatas mengatur rakyatnya, oleh karena itu pemerintah harus membuang isu cadar dan isu cingkrang dari keinginan negatif.

Sebagai pejuang Syariah Kaaffah, sudah seharusnya kita berusaha menjelaskan motif busuk pemerintah dengan program deradikalisasi tersebut. Juga ada kewajiban kita untuk mengkritisi redefinisi yang menyesatkan di atas, karena mempersoalkan cadar dan celana cingkrang itu dampaknya malah kegaduhan dan tidak substantif. Mudah-mudahan para petinggi kita sadar dengan kekeliruan ini. Ini adalah syariat Allah, dan tidak boleh ada yang melawannya. Walaupun berbagai konspirasi, namun yakinlah kebenaran akan mendominasinya. Wallahu a’lam bisshowwab.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Peran Ibu dalam Naungan Syariah

Read Next

Investasi: Pintu Penjajahan Asing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *