Menanamkan Kecintaan Kepada Nabi Sejak Dini

Oleh : Liza Burhan (Analis Mutiara Umat)

Tepat di penghujung bulan Rabiul Awal ini rasanya umat Islam masih belum mampu beranjak dari rasa sakit, sedih bahkan marah atas berbagai peristiwa pelecehan terhadap ajaran Islam dan yang terbaru penghinaan kepada kekasih Allah, Rasulullah nabi Muhammad Saw di berapa waktu lalu. Bulan kelahiran nabi Muhammad yang seharusnya banyak dipenuhi oleh momentum mengenalkan rasa cinta yang hakiki kepada Rasulullah Saw serta perjuangan untuk mengembalikan kembali kehidupan Islam seperti apa yang dibawanya justru ternodai oleh penghinaan nan menyakitkan kepada Islam dan Rasulullah Saw.

Rasa cinta umat kepada Rasulullah Saw tersakiti oleh perkataan seorang manusia yang coba membandingkan Rasulullah dengan mendiang ayahnya yang dia anggap lebih patut diakui terhadap suatu peran sebuah perjuangan, dan yang lebih menyakitkan lagi, hal tersebut dilakukan oleh seseorang yang mengaku sebagai umat nabi Muhammad dan juga pecinta Rasulullah Saw. Sungguh rasa cinta yang penuh dengan kedustaan.

Namun berbicara tentang rasa cinta kepada Rasulullah, sudahkah rasa cinta kepada Rasulullah itu juga telah kita tanamkan sepenuhnya kepada anak-anak kita, sudahkah anak-anak kita menjadikan Rasulullah sebagai idola dan tokoh superhero dambaan mereka, dan saat terjadi suatu penistaan atas diri Rasulullah seperti saat yang terjadi sekarang atau di waktu lain yang mereka sadari, sudahkah ada rasa ikut sedih dan marah juga yang muncul dari diri mereka?

Tidak perduli berapa umur anak-anak kita, pengenalan terhadap sosok Rasulullah memang sudah seharusnya kita tanamkan sedini mungkin kepada anak-anak kita agar saat dewasa mereka tidak akan menganggap orang tuanya lebih hebat dan lebih berjasa dari Rasulullah. Seperti apa yang terlihat pada kasus penistaan kepada Rasulullah di atas tersebut.

Dan sungguh adalah sebuah realitas menyedihkan yang ada pada zaman sekarang yakni sebagian besar anak-anak kaum muslimin lebih mengenal dan mengidolakan tokoh-tokoh superhero fiktif buatan barat daripada Rasulullah sebagai the real superhero yang sesungguhnya yang terlahir dari Islam, karena kesadaran dari mayoritas orang tua kaum muslimin untuk menanamkan kecintaan kepada Nabi sedari dini kepada anak-anaknya dari rumah juga masih cenderung minim dan disepelekan.

Didukung oleh penerapan sistem sekuler-kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan menjadikan negara abai dan lebih memberi ruang bebas terhadap tayangan-tayangan untuk anak-anak yang berisikan kisah tokoh-tokoh fiktif buatan barat daripada tayangan-tayangan yang bersifat edukasi dan yang dapat mengokohkan akidah maupun pengenalan terhadap tokoh-tokoh nyata pahlawan penyelamat dunia seperti Rasulullah dan para sahabatnya.

Ditambah pula oleh sistem pendidikan yang diterapkan tidak bertumpu pada kurikulum akidah Islam menjadikan pelajaran terhadap sosok Rasulullah sebagai pemimpin dan tauladan umat tidak diberikan secara jelas dan mendalam.

Maka atas kesadaran akan realitas tersebut, sebagai orang tua sudah saatnya kita benahi semua itu dengan paradigma yang benar. mau berapapun usia anak-anak kita sekarang, tidak ada kata terlambat untuk kita bisa arahkan dan tumbuhkan rasa cinta yang hakiki dan kekaguman kepada diri Rasulullah Saw pada diri mereka.

Lalu bagaimana agar rasa cinta dan kekaguman kepada Rasulullah tersebut bisa tumbuh hakiki pada anak-anak kita? Berikut ada beberapa poin yang akan saya coba paparkan yang bisa sama-sama kita tanamkan dari rumah. Yang bisa diberikan dengan cara dan gaya bahasa sesuai umur anak-anak kita.

๐ŸŒป Pertama, Perkenalkan anak-anak kita pada sosok Rasulullah dan terangkan kepadanya untuk apa ia diutus. Yaitu insan mulia utusan Allah, sosok pahlawan penyelamat dunia dan akhirat. Pembawa risalah Islam untuk rahmat bagi kehidupan semesta alam.

๐ŸŒป Kedua, Ajarkan anak-anak kita untuk mentauladani Rasulullah dalam menjalani aktivitas di segala aspek kehidupannya.

๐ŸŒป Ketiga, Biasakan anak-anak kita dengan sering membacakan atau dengan menyampaikan langsung lewat bercerita kepadanya tentang Sirah Nabawiyah. Yang berisi perjalanan kehidupan Rasulullah dari kecil hingga dewasa hingga menjadi pemimpin dunia. Yang bukan hanya sekedar pahlawan superheronya dunia tapi juga penyelamat di kehidupan akhirat. Ceritakan bagaimana Rasulullah menghadapi berbagai tantangan dalam menyampaikan kebenaran dan mendakwahkan Islam.

๐ŸŒป Keempat, Membiasakan anak-anak untuk selalu membaca shalawat kepada nabi dan memberikan penjelasan kepada mereka tentang makna dari shalawat kepada Nabi. “sesungguhnya Allah menyanjung Nabi di depan para malaikat yang dekat kepadaNya, para malaikat juga menyanjung Nabi dan mendoakannya. Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan Syariat-Nya, bershalawatlah kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan sebenar-benarnya sebagai penghormatan dan pengagungan (Kandungan QS al-Ahzab 56)”

๐ŸŒป Kelima, Ajaklah anak-anak menghafal hadits dan berusaha melatih mereka untuk mengamalkan hadist-hadist tersebut sesuai dengan usia dan pertumbuhan mereka.

๐ŸŒป Keenam, Ajarkan anak-anak tentang doa-doa yang diajarkan Rasulullah.

๐ŸŒป Ketujuh, Mengajarkan adab dalam keseharian yang dicontohkan Rasulullah seperti cara berbicara, makan, tidur, berpakaian, bermain/bergaul dan lainnya.

๐ŸŒป Kedelapan, Membiasakan anak-anak dalam nuansa dakwah seperti sering mengajak mereka menghadiri kajian atau agenda-agenda aktivitas dakwah, libatkan mereka dalam aksi-aksi perjuangan dan pembelaan terhadap Islam, serta ajarkan mereka akan wajib dan pentingnya berdakwah serta bagaimana menghadapi ujian dan tantangan dalam berdakwah.

๐ŸŒป Kesembilan, Mengajarkan apa-apa yang dicintai Rasulullah baik kebiasaan-kebiasaan dalam perbuatannya maupun Kecintaan pada simbol-simbol Islam yang dibawanya.

๐ŸŒป Dan kesepuluh, Istiqamah dan selalu memohon doa kepada Allah agar kita diberikan kemudahan dalam mendidik putra-putri kita agar taat Allah dan senantiasa mencintai Rasulullah.

Memang, mengajarkan anak-anak untuk mencintai nabi di era sekuler saat ini sungguh tidaklah mudah, tapi bukan berarti kita tidak bisa. Berbagai kecanggihan teknologi yang ada saat ini bisa saja dipakai sebagai wasilah dalam mendidik anak dalam menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah.

Karena bagi seorang mukmin, harta yang paling berharga di dunia ini yakni memiliki anak-anak yang shalih dan Shalihah. Menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah sedari dini adalah modal awal bagi anak-anak kita untuk meneladani dan menjadikan Rasulullah sebagai sosok yang diidolakannya. Hingga mereka siap menjadi garda terdepan sebagai pembela ketika Allah dan Rasulullah dinistakan.

Selain dari orang tua sebagai pilar utama dalam mendidik anak untuk mencintai Rasulullah, hendaknya lingkungan masyarakat sekitar juga berperan dalam menanamkan kecintaan pada Rasulullah, bukan sekedar kecintaan yang hanya keluar dari mulut manis belaka, namun kecintaan yang terealisasi dalam aturan hidup dengan pola hidup masyarakat yang Islami juga.

Dan yang terakhir tentu saja adalah peran negara, peran negara seharusnya juga wajib memberikan edukasi dan pengajaran yang benar kepada anak-anak dan generasi muda. Agar memiliki rasa cinta dan kekaguman pada sosok Rasulullah Saw. Kecintaan yang tercermin melalui penerapan syariat Islam yang menyeluruh sebagaimana yang dicontohkan dan diperintahkan oleh Allah dan Rasulullah Saw.

Membenahi sistem pendidikan dengan kurikulum yang bersandar pada akidah Islam, serta sebagai inisiator dan fasilitator yang lebih banyak menyajikan konten-konten yang menggambarkan perjuangan Rasulullah Saw untuk Islam yang akan menumbuhkan kekaguman serta inspirasi bagi anak-anak dan generasi muda.

ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูุณู’ูˆูŽุฉูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ ู„ูู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุฑู’ุฌููˆ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽ ูˆูŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูƒูŽุซููŠุฑู‹ุง

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasรปlullรขh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allรขh dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allรขh [al-Ahzรขb/33:21]

Maka hanya dengan langkah-langkah tersebutlah kecintaan kepada Rasulullah Saw akan tumbuh pada jiwa kaum muslimin. Dari mulai anak-anak hingga orang dewasa. Tumbuh padanya kecintaan dan kerinduan yang sesungguhnya, bukan lagi kecintaan yang hanya manis di bibir saja.

Wallahu a’lam bishshawwab.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Polemik Penistaan Agama di Negeri Sekuler

Read Next

Geram! Lagi-lagi Islam Dinistakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *