Breaking News :

October 14, 2019

Liberalisi Di Balik Film Receh ‘The Santri’

Oleh: Siti Sa’adah, S.Pd (Aktivis dan Anggota Komunitas Pena Islam)

Film atas nama santri yang belakangan ini viral telah mengundang sejumlah kontroversi di tengah masyarakat Indonesia. Trailernya mengundang banyak perhatian para netizen. Khususnya dari para tokoh dan Ulama tanah air. Pasalnya film yang berjudul The Santri tersebut bertentangan dengan syariah Islam. Gambaran kondisi dan suasana pesantren lekat, namun adegan demi adegannya kental dengan nilai-nilai pluralisme.

Menurut Tokoh Nahdatul Ulama Jawa Timur, KH. Luthfi Basori dirinya siap berada di barisan depan dalam menolak film The Santri dan setuju bila ada gerakan untuk memboikot film tersebut. “Saya mengecam dan menolak film The Santri. Di cuplikan itu ada beberapa yang tidak pantas jika dikatakan itu santri. Kalau kita bicara santri, berbeda dengan pelajar sekolah umum. Perbedaannya, santri di mana-mana tidak kumpul antara santri putri dan putra,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Selasa (16/09/2019).

Ironis. Film tersebut kehilangan makna dan hakikat santri dan pesantren itu sendiri. Atas nama kebebasan dan seni, film karya Livi Zheng telah lolos produksi dan rencananya akan dirilis bulan Oktober mendatang. Livi Zheng merupakan WNI sekaligus sutradara beretnis China dan bukanlah seorang muslim. Pantas jika film tersebut jauh dari nilai-nilai Islam dan justru mengusung sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Sebut saja ada aktivitas pacaran; berdua-duaan dengan yang bukan mahrom (khalwat), tidak menjaga pandangan (ghadul bashor). Ada campur baur perempuan dan laki-laki asing bukan dalam perkara syar’I (ikhtilath). Ada perayaan serta memasuki rumah ibadah agama nasrani (tasyabuh). Membenarkan agama lain dan lain sebagainya.

Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya kita menolak keberadaan film ini. Karena jelas bertentangan dengan syariat Islam dan lambat laun akan meracuni, mengikis dan merusak akidah Islam. Selain itu, apa yang telah ditunjukkan oleh film ini merupakan bentuk pelecehan terhadap ajaran Islam.
Ide sekuler-liberal akan terus menerus diusung oleh musuh Islam dari berbagai sisi dan bidang.

Maka dari itu perlawanan sepadan perlu dilakukan. Yakni, hanya dengan mengusung dan berpegang teguh pada ideologi dan syariat Islam secara kaffah, tidak dengan yang lain. Jangan sampai umat Islam apologetik menyikapi film tersebut. Pun pemerintah yang sejatinya tidak boleh bungkam atas apa yang telah terjadi. Pemerintah harus bersikap tegas dan memboikot karya seni semacam ini. Karya seni yang jelas menghina dan melecehkan santri, pesantren dan syariat Islam. Karya seni receh yang membahayakan generasi Islam. [OM]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Kontroversi Film The Santri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *