Kesiagaan Menghadapi Megathrust

Oleh : Ruruh Anjar

Gempa bumi masih menjadi potensi berulang. Pihak Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membenarkan adanya potensi gempa bumi dahsyat bermagnitudo 8,8 SR yang mampu menimbulkan tsunami setinggi 20 m (Bbc.com, 22/7/2019).

Gempa bumi dahsyat ini terjadi di zona Megathrust yang merupakan zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa. Proses penunjaman lempeng masih berlangsung dengan laju 60—70 mm per tahun. Dan menurut pakar gempa, Jojo Rahardjo, gempa yang terjadi pada hari Sabtu (3/8) di Sumur, Banten, menjadi sinyal ancaman potensi Megathrust Selat Sunda (Liputan6.com, 5/8/2019). Begitu pula dengan gempa tektonik di wilayah Yogyakarta pada hari Sabtu (10/8) lalu terjadi di zona Megathrust (Tempo.co, 10/8/2019).

Adanya pergerakan lempeng ini telah dinyatakan oleh Allah Subhanahu wata’ala:
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS An-Naml; 88).

Dari sini tampak bagaimana Allah menggambarkan proses terjadinya gempa secara ilmiah dan telah dibuktikan oleh para pakar. Namun di sisi lain, bagi orang yang beriman peristiwa gempa bukan sekadar proses alamiah belaka. Tetapi merupakan tanda peringatan dari Allah agar manusia menjauhi kemaksiatan.

Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya, suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata, “Tenanglah, belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian, maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!”

Umar bin Khattab r.a. yang mengingat kejadian itu saat terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Sahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattab. Inilah pernyataan lengkapnya tentang gempa, “Tidaklah bumi bergoncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rabbnya azza wajalla melihatnya.”
Ka’ab menyebut bahwa goncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di atas bumi-Nya.

Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah, beliau berkata, “Allah terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dahsyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal.” (Miftah Daris Sa’adah 1/221).

Oleh sebab itu sikap terbaik adalah senantiasa bertawakal kepada Allah, jangan sampai manusia mengingat Allah saat gempa dan bencana lain terjadi. Namun saat situasi dirasa aman, justru berbalik ke belakang, tiada mengingat Allah dan tiada melaksanakan perintah-Nya kembali.

Selain itu dalam menyikapi adanya bencana ini perlu menyiapkan berbagai upaya dalam tanggap bencana, untuk menghindari korban yang lebih banyak. Baik sebelum, saat terjadi, dan setelah bencana terjadi.

Sejarah peradaban Islam menunjukkan, pelayanan dalam kemaslahatan publik masa kekhilafahan benar-benar mencapai puncak kebaikan. Termasuk dalam pembangunan pemukiman penduduk dan perkotaan. Khususnya di area rawan gempa, penerapan konstruksi bangunan tahan gempa menjadi fokus perhatian pemerintah.

Salah satu tokoh besar yang berpengaruh adalah Sinan (1489-1588 M) yang merupakan arsitek utama kekhilafahan Utsmani. Sinan mendesain dan membangun 477 bangunan selama karirnya yang panjang dalam melayani tiga Khalifah di Turki. Salah satu karyanya adalah Masjid Selimiye di Edirne, dengan menara paling tinggi dan paling tahan gempa di seluruh Turki (press.nationalgeographic.com/2012/01/19).

Di sejumlah kota tua seperti di Persia dan Khasmir masih bisa disaksikan keagungan arsitektur era peradaban Islam. Meski wilayah tersebut sudah berkali-kali dilanda gempa namun bangunan tersebut tetap berdiri kokoh hingga saat ini. Jika dibandingkan dengan bangunan yang didirikan era sesudahnya justru hancur berantakan. (researchgate.net), (http://www.cicop.it, Architectural Issues in Earthquake Rehabilitation of the Iranian Cultural Heritage)

Bangunan yang didirikan juga memperhatikan aspek kesehatan, kenyamanan, dan keselamatan jiwa masyarakat. Selanjutnya adalah menyiapkan program adaptasi dan mitigasi gempa, serta penyosialisasiannya kepada masyarakat. Kesemuanya dirancang dan dilaksanakan dalam koridor syara’.

Yang tak kalah penting adalah menjauhi kemaksiatan, dan melaksanakan syariat Islam di semua sendi kehidupan. Tidak hanya di ruang pribadi tetapi secara menyeluruh hingga tingkat masyarakat dan negara.

Wallahua’lam [om]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Membungkan Dakwah Islam, dengan Slogan Anti Pancasila

Read Next

Listrik Mati, Akankah Terus Berulang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *