Kenakan Ihrommu, Tanggalkan Jabatanmu

Oleh : Lilik Yani

“Pada akhir zaman nanti, manusia yang keluar (dari rumahnya) untuk melaksanakan ibadah haji terdiri dari empat macam (manusia). Para pejabat laksanakan haji untuk berpesiar. Pedagang untuk berniaga, orang miskin untuk mengemis, dan ulama untuk memperoleh kebanggaan.” (Sabda Rasulullah saw)

*****

Bagaimana kenyataan saat ini? Banyak sekali jamaah yang berbondong-bondong untuk bisa melaksanakan rukun Islam yang kelima itu. Suatu kebanggaan, karena semakin banyak yang bersemangat menjalankannya. Terutama jamaah haji dari Indonesia. Setiap tahun jumlahnya selalu bertambah.

Mereka tidak menyerah, walau harus melaui proses menunggu yang sangat lama. Panggilan Allah untuk menjadi tamu-Nya di tanah suci, begitu menggema di hati. Setiap detik waktunya, dipergunakan untuk memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk bisa menjalaninya dalam keadaan sehat dan kuat.

Stamina yang tangguh sangat diperlukan untuk bisa menunaikan serangkaian prosesi rukun haji yang wajib dilakukan setiap jamaah. Hingga mereka akan terus berupaya untuk menjaga kebugaran fisiknya. Itu bagi mereka yang betul-betul ingin menunaikan ibadah haji dengan ikhlas karena Allah semata.

//Macam-macam Tujuan Berhaji//

Tidak semua jamaah akan mempersiapkan diri secara fisik dan mental (persiapan ruhani). Padahal tahu bagaimana beratnya perjalanan dan ibadah yang akan dilakukan. Mereka pikir yang penting berangkat, dengan niatan masing-masing. Ada yang berangkatnya haji karena ingin mendapat gelar haji, untuk menambah gengsinya saat disebut namanya. Biasanya ini dilakukan dalam rangka meraih jabatan atau kedudukan di instansi atau departemennya. Hingga tampak berwibawa dan religius.

Ada juga yang menjalankan haji karena ingin bersama artis, bisa sering bincang-bincang sama artis dan berfoto ria di sana. Hal itu akan membuatnya bangga dan istimewa. Padahal untuk mendapatkan kesenangan itu, harus merogoh kocek lebih dalam karena pasti ikut rombongan haji plus-plus, dengan fasilitas yang mewah. Baik itu hotel, makanan, pesawat dan fasilitas berupa kemudahan-kemudahan lainnya.

Ada juga yang menjalankan haji untuk mendapat kebanggaan di sebut orang kaya, sehingga menjalankan haji tidak cukup sekali. Mereka berhaji berkali-kali tanpa memikirkan saudara lainnya yang mengantri lama.  Padahal mereka tahu kalau saudaranya untuk bisa mendaftar saja mereka harus menabung sangat lama. Sedangkan para jamaah kaya, tidak perlu mengantri karena bisa membayar mahal KBIH dengan fasilitas haji plus. Padahal Rasulullah saja memberi contoh beribadah haji cukup satu kali. Jika mereka masih rindu Baitullah, bisa mengikuti umroh saja.

Selain itu ada jamaah haji pedagang, sehingga selain menjalankan ibadah haji, mereka menjalankan profesinya yaitu berdagang. Kesempatan bagus, bisa menjual barang dengan harga mahal, apalagi pembelinya oramg-orang kaya yang uangnya berlimpah.

Dengan demikian, terbukti sabda Rasulullah seperti di atas, dalam kenyataannya para jamaah haji memiliki niat yang berbeda-beda dalam menjalankan hajinya. Astaghfirullah. Ibadah dibuat permainan. Allah tidak dihiraukan. Padahal ibadah itu akan diterima Allah jika memenuhi dua syarat yaitu jika dilakukan ikhlas karena mengharap ridlo Allah dan cara menjalankannya mengikuti syariat Islam yang dicontohkan Rasulullah saw.

//Kenakan Pakaian Ihrom, Tanggalkan Kekuasaan atau Jabatan//

Ketika menjadi tamu Allah, para jamaah haji diwajibkan untuk mengenakan pakaian ihrom. Pakaian yang berwarna putih dan tidak berjahit bagi laki-laki. Allah memilih pakaian putih itu memiliki makna persamaan nilai kemanusiaan yang tidak membedakan antara satu dengan yang lain. Tidak melihat latar belakang status ekonomi, jabatan, kedudukan, pendidikan dan yang lainnya. Tidak juga melihat suku, ras, golongan, atau warna kulit. Semua akan sama di hadapan Allah. Yang membedakan adalah ketaqwaannya kepada Allah.

Pada umumnya orang kalau bertamu. Akan mengenakan pakaian terbaiknya, dilengkapi asesoris yang yang bagus agar menambah serasi penampialan. Dengan harapan bisa menyenangkan tuan rumah yang akan dikunjungi, agar merasa dihormati. Sedangkan Allah tidak sama dengan manusia. Allah sebagai tuan rumah, pemilik baitullah yang dikunjungi jutaan jamaah pada saat musim haji ini. Allah menginginkan para tamunya mengenakan pakain seragam, yaitu dengan 2 lembar kain putih yang tidak berjahit.

Secara psikologis, semua jamaah akan sepadan, karena semua harta dan kedudukan ditanggalkan. Ketika mengenakan pakaina ihrom, maka semua harta kekayaan harus ditinggalkan. Pakaian kebesaran yang harganya mewah ditanggalkan. Kedudukan, jabatan, status sosial disembunyikan. Allah menginginkan semua jamaah dalam kondisi sama secara fisiknya. Perbedaan di hati, apakah terpenuhi iman yang kokoh kepada Allah, atau hanya sekedar menjalankan tanpa makna, sekedar gugur kewajiban dan mendapat gelar haji. Atau memiliki niatan-niatan lain yang tersembunyi di hatinya. Hanya mereka dan Allah yang mengetahui.

Dengan mengenakan pakain ihrom, menjadi tanda kesucian dan siap untuk melaksanakan ibadah haji. Karena setelah mengenakan pakaian ihrom, akan disertai larangan-larangan yang wajib dipatuhi. Jika kita melanggar akan berdosa dan kena dam (denda). Dengan demikian hikmah yang bisa diambil adalah kepatuhan, kepasrahan dan kerendahan hati kepada Allah swt sebagai sikap seorang muslim yang baik.

Saudaraku para jamaah haji, patuhi aturan Allah. Kalian sudah menanti proses panjang untuk bisa sampai ke tanah suci. Proses mengumpulkan sejumlah rupiah untuk bisa mendaftar haji kemudian melewati proses penantian yang sangat lama untuk dipanggil berangkat haji. Sesampai di tanah suci, nikmati setiap proses ibadah dengan penuh kekhusyukan.

Bersihkan hati dari segala sikap dan perbuatan yang bisa merusak suasana ibadah. Walau harus menghadapi jutaan jamaah yang berbeda karakter dan kebiasaan, jalani dengan penuh kesabaran.

Tancapkan di hati, bahwa mereka semua saudara. Jadi harus saling menyayangi dan tolong menolong jika mengalami kesulitan. Semoga Allah selalu menyertai kalian semuanya dan menerima ibadah, doa dan taubat kalian. Hingga Allah memberikan gelar haji mabrur dengan pahala surga.

Wallahu a’lam bisshawab

Surabaya, 12 Agustus 2019 [om]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Mempertanyakan Penahanan Sang Kreator Munirman

Read Next

Genosida Pajak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *