Kembalikan Marwah Erau dengan Standar Al-Qur’an

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd (Warga Kutai Barat, Kaltim)

Erau adalah sebuah tradisi budaya Indonesia yang dilaksanakan setiap tahun dengan pusat kegiatan di kota Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Tahun ini Erau digelar pada tanggal 8-15 September 2019, lepas dari International Folk Art Festival (IFAF) atas permintaan pihak Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura untuk mengembalikan marwah upacara adat erau. Sebelumnya 6 tahun digelar berbarengan, IFAF sendiri digelar 21-29 September 2019.

Konsep Erau tahun ini akan sangat berbeda. Marwah Erau yang sakral itu akan sangat kental terasa dengan gagasan detail oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang terfokus di kawasan Kedaton Kesultanan Kutai dan Museum Mulawarman. Mulai dari berbagai kesenian rakyat hingga upacara adat digagas sesuai marwah kegiatan tersebut. Terlebih lagi, Kesultanan menyatakan hakikatnya dengan dua kalimat syahadat, bermakna semua prosesi kembali ke nilai-nilai Islam.

Rangkaiannya sudah digelar sejak 3 Agustus kemarin dengan khataman AlQuran dan haul jamak para sultan terdahulu. Akan dibuat semacam tempayan, di mana didalam tempat air itu menjadi air pelas benua yaitu air yang akan dilakukan ritual pembacaan Quran oleh kesultanan dan kembali ke ajaran Allah. (https://www.kutaikartanegaranews.com/2019/09/digelar-8-15-september-erau-diawali-khataman-al-quran-dan-haul-para-sultan.html)

Prosesi sakral selama Erau akan dipusatkan di keraton Kutai (kini Museum Mulawarman). Selain itu, juga akan ditampilkan budaya lokal lainnya. Hal ini selaras dengan filosofis Erau yang berarti Eroh atau ramai. Festival Eroh nantinya akan menampilkan seni tari, menyanyi, hingga lomba bemamai dan belocoan. Disela-sela perhelatan Erau, juga akan dilaunching batik dengan motif tambak karang yang menjadi ciri kesultanan Kutai, serta festival kuliner khas Kutai.

Pelaksanaan Erau pun ke depannya secara berangsur menuju kemandirian, dengan mengurangi dana yang diterima Pemkab Kukar. Sultan Aji Muhammad Arifin, menginstruksikan dan bertitah untuk tidak lagi ‘tangan di bawah’. Lepasnya Erau dan Festival Rakyat Internasional disepakati lantaran Kesultanan ingin menunjukan bahwa kearifan lokal akan dikedepankan dalam pergelaran.
Erau tahun ini lebih mengembalikan pondasi awal, makna sesungguhnya dari Erau. Yakni filosofi rasa kasih dan sayang dan berkah rakyat yang diberikan ke rajanya dan raja memberikan berkah kepada rakyatnya. 20 Sultan se-Nusantara jadi tamu kehormatan erau tahun ini.
(https://www.korankaltim.com/berita-terkini/read/25344/20-sultan-se-nusantara-jadi-tamu-kehormatan-erau-tahun-ini)

Tidak ketinggalan dalam Erau yakni prosesi belimbur hanya menggunakan air tuli, air kesucian yang diambil di Kutai Kutai Lama diketemukan dengan air pelas benua yang dibacakan ayat Quran. Filosofinya, orang yang disiram dengan air itu menjadi bersih lahir-batinnya. Air tersebut tidak diperbolehkan dicampur air kotor, dan tindakan yang tidak senonoh dalam penyiramannya seperti yang sering kali terjadi. Area belimbur akan dibatasi, bagi yang melanggar akan dikenakan denda adat hingga pidana. Didenda oleh adat sebanyak satu ekor kambing, kalau proses yang tidak mengenakan terjadi maka sampai ke tindak pidana dengan bekerja sama dengan Polres Kukar, Kodim 0906/Tgr dan Satpol PP.
(https://www.korankaltim.com/berita-terkini/read/25231/tegakkan-marwah-adat-erau-pelanggar-aturan-belimbur-dinanti-sanksi-ini)

Sejarah Erau

Erau berasal dari kata Eroh yang dalam bahasa Kutai memiliki arti ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara atau memiliki arti juga: banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan. Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah Aji Batara Agung Dewa Sakti diangkat menjadi raja Kerajaan Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), upacara Erau tetap diadakan setiap penobatan atau pergantian raja-raja Kutai Kartanegara.

Dalam perkembangannya upacara Erau selain dilakukan untuk penobatan raja juga dilakukan sebagai upacara pemberian gelar dari Raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan. Pada masa itu Erau dilakukan oleh kerabat Keraton atau Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Pelaksanaan Erau menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan terakhir kalinya pada tahun 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat. Setelah masa pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir. Upacara Erau tetap dilaksanakan sebagai agenda rutin Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada mulanya Erau masa bupati Kutai Drs.H. Achmad Dahlan, dilaksanakan setiap 2 tahun dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong. Atas petunjuk Sultan Kutai Kartanegara yang terakhir, Sultan A.M. Parikesit. Upacara Erau dapat dilakukan dengan kewajiban untuk tidak melakukan upacara Tijak Kepala dan Pemberian Gelar, serta melakukan kegiatan seperti upacara adat lain dari suku Dayak, kesenian dan olahraga atau ketangkasan.

Seiring berjalannya waktu, pemerintah Kukar membuat kebijakan dengan menjadikan Erau sebagai pesta budaya, yakni dengan menetapkan pelaksanaan Erau secara rutin. Erau telah masuk dalam calender of event pariwisata nasional, tidak lagi dikaitkan dengan seni budaya Keraton Kutai Kartanegara tetapi lebih bervariasi dengan berbagai ragam penampilan seni dan budaya yang ada serta hidup dan berkembang di seluruh wilayah Kabupaten Kutai. (http://erau.kutaikartanegara.com.index.phpmenu=Asal_Mula_Erau)

Negara Islam Lenyap, Penyebab Adat Istiadat Bertentangan

Erau saat ini dijadikan sebagai adat/tradisi dan identitas kearifan lokal yang dijaga dan dilestarikan. Dijadikan sebagai event tahunan yang digelar dengan segenap ritualnya. Sebagai muslim yang terikat pada hukum syariat, kita wajib memahami apakah penyelenggaraan Erau sudah berdasarkan syariat Islam atau tidak. Perlu ada kajian Islam tentang Erau ini dan penulis akan membahas Erau sebagai adat/tradisi.

Dalam kitab “mafahim islamiyah” (karya An-Nabhani dan M. Husain Abdullah) disebutkan urf (adat/tradisi) pada hakikatnya dihasilkan dari sekumpulan pemikiran dan pemahaman yang menguasai masyarakat dan dihasilkan dari sistem-sistem dan undang-undang yang telah dijadikan solusi hukum dalam memecahkan permasalahan mereka. Tegasnya adat/tradisi adalah hasil dari aturan (baca, negara) yang diterapkan di masyarakat. Disebut sebagai adat/tradisi Islam ketika dihasilkan dari aturan (baca, negara) Islam dan menjadi adat/tradisi kufur ketika dihasilkan dari aturan kufur. Yang wajib diperhatikan, ketika kaum muslim keluar dari pemikiran dan hukum Islam sejak runtuhnya negara Islam namun masih ada sebagian adat/tradisi yang berlangsung sampai sekarang selama ada sandaran dalil syara’ maka tidak masalah. Hanya saja, lenyapnya negara Islam dan diterapkan hukum selain Islam seperti sekulerisme, patriotisme, nasionalisme, dan sistem buatan manusia lain menjadi penyebab adat/tradisi kebiasaan masyarakat berubah dan menyalahi Islam.

Sulit menghilangkan adat yang bertentangan dengan Islam karena negara tidak ada di dalamnya untuk mengatur. Negara justru hadir menyuburkan adat istiadat dalam rangka untuk menunjang pendapatan negara. Apalagi, negara dan pemimpin saat ini tidak menjadikan hukum Islam sebagai standar, akan tetapi kapitalis sekulerlah yang menjadi landasan, yang mana selama ada keuntungan atau manfaat maka akan diambil tidak peduli halal haram atau hukum syara’.

Liberalisasi atau kebebasan menjadi standar, individu dan masyarakat pun bebas berkarya dengan adatnya tanpa terikat dengan hukum syara’. Lebih parahnya lagi jika ritual atau adat istiadat yang sebenarnya bertentangan dengan Islam namun disuguhi dengan simbol, doa atau kegiatan Islam sehingga terkesan islami. Padahal, Allah sudah memperlihatkan bukti beberapa bencana terjadi pada saat kesyirikan menjamur. Jika tidak ada yang menegur, amar ma’ruf nahi munkar sebagai sesama muslim maka bagaimana Allah tidak murka melihat kondisi masyarakat yang demikian. Naudzubillah, bertaubat dan kembalilah kepada Islam dan hukum Islam, bagaimana sebenarnya adat istiadat diatur dalam Islam. Jangan sampai adat istiadat terdapat kesyirikan, yakni menyekutukan Allah, menganggap ada yang lebih dari Allah yang mendatangkan manfaat dan musibah.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (TQS. AN-Nisaa’: 48)

Adat atau Tradisi (Urf) dalam Islam

Dalam Islam, baik tradisi atau adat istiadat, kearifan lokal, dan pariwisata terikat dengan hukum Islam. Jika mengandung kesyirikan dan kemaksiatan maka tidak akan dilaksanakan dan dilestarikan tetapi dihilangkan. Termasuk Erau, meski adat jika ada yang bertentangan atau melanggar hukum syara’ dalam prosesnya maka tidak akan diselenggarakan. Pemimpin dalam hal ini negara berkewajiban untuk menjaga kemurnian akidah umat. Adat cukup hukum adat, tidak akan menjadi standar hukum apalagi mengalahkan hukum syara’, karena syara’ tetap harus didahulukan menjadi patokan boleh atau tidaknya adat dilaksanakan. Sebab, salah satu fungsi syariat adalah untuk mengubah tradisi atau adat istiadat yang rusak atau bertentangan yang menjadi penyebab rusaknya masyarakat karena kesyirikan atau kemaksiatan.

Dalam Islam identitas kesukuan termasuk kasta bukanlah sesuatu yang penting karena Islam telah meleburkan dan mempersatukan semua muslim bagaikan satu tubuh yakni ukhuwah islamiyah sebagaimana yang disebutkan Allah dalam QS Al Hujurat:10. Oleh karena itu, masyarakat dalam Islam adalah masyarakat yang terikat dalam satu pola pemikiran, perasaan dan aturan dengan Islam. Semuanya sama, tidak ada yang membedakan kecuali ketakwaannya dihadapan Allah swt.

Hukum perbuatan tidak boleh berstandarkan urf atau adat karena urf atau adat akan selalu berputar, artinya akan mengalami perubahan atau pergantian dari masa ke masa. Sedangkan dalam Islam jelas hukum syara’ tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Kesesuaian syariat Islam untuk setiap waktu dan tempat disebabkan Islam mampu memecahkan masalah manusia disetiap waktu dan tempat dengan berbagai macam hukumnya. Islam mampu memecahkan semua masalah manusia. Hanya saja keluasan syariat Islam tidak berarti fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan segala sesuatu yang bertentangan dengan syara’. Keluasan nash syara’ adalah keberadaannya sebagai sumber pengambilan berbagai macam hukum.

Oleh karena itu, wajib menundukkan urf yang bersifat perbuatan dengan hukum syara’. Dikerjakan atau tidak bukan berarti karena dia adalah adat istiadat atau kebiasaan tetapi karena adat itu mempunyai dalil dari syara’. Jika tidak bersandar pada dalil syara’ maka tinggalkanlah karena setiap muslim wajib terikat dengan perintah atau larangan Allah.

Dengan demikian adat istiadat yang telah mendominasi masyarakat saat ini adalah rusak, karena muncul dari buatan manusia yang bercampur dengan pemahaman selain Islam. Sehingga berhukum kepada adat istiadat atau kebiasaan adalah menyalahi dan bertentangan dengan Islam. Hanya Khilafah yang dengan diterapkannya Islam dalam semua aspek kehidupan maka adat istiadat atau kebiasaan pun memancar dari sekumpulan pemikiran, pemahaman dan hukum Islam. Tanpa Khilafah tidak akan ada yang menjaga kemurnian akidah umat Islam dari adat istiadat yang bertentangan dengan Islam.
Wallahu a’lam..[OM]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pemindahan Ibukota, Tepatkah?

Read Next

Mewujudkan Ketahanan Pangan Tanpa Impor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *