Jargas Gratis Pengganti Elpiji Kenapa Tidak?

 

Oleh: Rahmi Surainah, M.Pd  (alumni Pascasarjana Unlam)

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kukar Slamet Hadiraharjo mengatakan, tahun depan Kukar bakal dapat jatah lagi 5.000 sambungan rumah tangga untuk jargas dari pemerintah pusat. Slamet Hadiraharjo mengakui belum semua rumah tangga sasaran terpasang instalasi jargas bahkan ada yang baru memohon untuk penyambunganya.

Biasanya kontraktor mengerjakan instalasi pipa jargas secara sporadis, lalu disambung ke satu sistem jaringannya. Selanjutnya dites dulu kalau ada bocor. Sedangkan sumber gasnya berasal dari Pertamina Hulu Sangasanga (PHSS) atau eks VICO. Tekanan gas lebih rendah dari elpiji. Slamet mengimbau masyarakat tak perlu takut dengan adanya sambungan jargas ini. Slamet berharap pihak kementerian bisa terus membantu ke depannya, jika pemerintah tidak bantu, tapi ada masyarakat yang mau bayar sendiri kenapa tidak.

Kontrak pekerjaan 5.000 sambungan jargas ini memakan waktu 220 hari. Pembangunan jargas di Muara Badak ini merupakan satu paket pekerjaan dengan di Kabupaten Lamongan yang nilai kontraknya mencapai Rp 85 miliar.

Total pembangunan satu paket jargas rumah tangga ini mencapai 9.000 SR, terdiri 5.000 SR untuk Kukar dan 4.000 SR untuk Lamongan. Di Muara Badak, ada 5 desa yang disasar untuk penyambungan jargas ini, yakni Desa Badak Baru, Gas Alam, Muara Badak Ulu, Muara Badak Ilir dan Tanjung Limau.
(https://kaltim.tribunnews.com/2019/10/11/tahun-depan-kukar-dapat-5000-sambungan-jargas-dari-pemerintah-pusat?page=all)

Jargas Jawaban Kelangkaan Gas Elpiji

Jargas pengganti gas elpiji memang lebih murah. Disampaikan tiap bulannya rumah tangga pengguna jargas dapat menghemat Rp. 5000/kg elpiji yang digunakan tiap harinya. Selain itu, tekanan gas bumi yang lebih rendah dibanding elpiji lebih aman. Terlebih jargas berhasil tekan impor elpiji. (Kaltimpost.com, 3/3/2019)

Jargas adalah jaringan pipa yang dibangun dan dioperasikan untuk penyediaan dan pendistribusian gas bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil. Hal ini sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) No.6 tahun 2019.

Terjawab sudah kelangkaan gas elpiji dengan solusi jargas. Kelangkaan gas elpiji menjadikan jargas sebagai pelarian atau pengganti. Meski jargas lebih murah tetapi pemerintah terlihat secara tidak langsung berusaha mengurangi subsidi gas dengan ending adanya jargas sehingga menghemat anggaran negara.

Hal ini dibuktikan oleh pernyataan Menteri ESDM bahwa pembangunan jargas utamanya mempermudah kehidupan masyarakat, disamping itu secara makro dapat menekan impor elpiji serta menghemat devisa negara. (Facebook.kota tarakan (paguntaka city), 29/3/2019)

Tidak semua daerah bisa menikmati jargas. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar jargas rumah tangga bisa dibangun di suatu daerah, yaitu dekat dengan sumber gas/infrastrutur pipa gas, spesifikasi gas terpenuhi, terdapat potensi pasar pengguna jargas, adanya komitmen dari Pemda, dan memenuhi kaidah keselamatan serta keteknikan.
Jika syarat tersebut tidak terpenuhi otomatis berarti daerah pedesaan atau pedalaman yang jauh dari sumber gas tidak akan bisa menikmati.

Dalam sistem kapitalis sekuler wajar pemerintah akan terus berusaha untuk mengurangi/menghilangkan subsidi. Pelayanan pemerintah beralih kepada swasta sehingga tercipta suasana bisnis kepada rakyat. Pelayanan gas yang seharusnya murah bahkan gratis namun dikapitalisasi oleh pemerintah.

Apalagi kalau pemerintah lepas tangan dengan mengalihkan ke swasta dengan sistem kontrak, meski gasnya diperoleh dari PT Pertamina namun pengelolaannya oleh swasta. Hal ini pernah diungkapkan dari pernyataan Dirjen Migas Kementerian ESDM (bisnis.com,2/2/2017) bahwa pengelolaan dan pengoperasian jargas akan dilakukan PT Pertagas Niaga bekerja sama dengan perusahaan daerah setempat.

Para kapitalis atau pemilik modal selalu andil dalam urusan pengelolaan aset negara yang sebenarnya tanggung jawab pertama dan utama oleh pemerintah. Hal ini semakin memperlihatkan progam pemerintah dalam hal jargas tidak terlepas dari kepentingan para pemilik modal.

Selain itu, ketersedian pasokan gas akan menambah eksplorasi SDA berupa migas. Jika pengelolaannya masih dikelola oleh swasta atau asing maka sama saja progam jargas belum sepenuhnya murni untuk memudahkan kehidupan masyarakat. Namun, memuluskan eksplorasi SDA migas berkedok investasi dan kerja sama. Akhirnya lagi-lagi masyarakat menjadi korban eksplorasi SDA berupa kerusakan lingkungan. Dapat dikatakan inilah kezholiman sistem kapitalisme yang menganggap subsidi adalah beban dan terus secara bertahap mencabut berbagai subsidi bagi masyarakat. Hal ini sama persis ketika pemerintah mencabut subsidi minyak tanah agar masyarakat beralih ke tabung gas melon. Sekarang setelah warga berpindah ke gas melon diberlakukan lagi lagu lama, berawal dari langka akhirnya ganti ke progam jargas.

Konsekuansi negara menerapkan sistem kapitalis otomatis liberalisasi-pun terjadi pada SDA. Subsidi pun secara bertahap dialihkan dengan kapitalisasi. Bagaimana tidak saat ini SDA banyak dikuasai oleh pihak swasta dan asing. Kebijakan dari pemeritah pun masih berpihak kepada pemilik modal atau para kapitalis tersebut, dengan memberikan izin dan undang-undang sehingga mereka legal mengeksploitasi SDA, salah satunya untuk pasokan jargas.

Islam Kelola SDA untuk Kesejahteraan Umat

Dalam Islam, SDA dikelola syariat sehingga peruntukannya dikembalikan kepada masyarakat tanpa syarat, murah bahkan gratis dan berkualitas. Pemerintah akan melayani masyarakat sepenuh hati tanpa perhitungan untung rugi dan tidak khawatir kehabisan devisa negara. Devisa negara tidak akan berkurang karena sebenarnya kekayaan Indonesia melimpah jika dikelola dengan benar, yakni sesuai aturan Islam.

Pengelolaan SDA salah satunya gas, hanya negara yang berhak mengatur dan menjamin pengelolaannya untuk dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk langsung atau pun tidak langsung seperti gratisnya biaya pendidikan, kesehatan, dan terjangkaunya harga kebutuhan pokok.

Sebagaimana At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abyadh bin Hamal: Abyadh diceritakan telah meminta kepada Rasul untuk dapat mengelola suatu tambang garam. Rasul semula meluluskan permintaan itu, tapi segera diingatkan oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah tahukah engkau apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir” Rasulullah kemudian bersabda: “Tariklah tambang tersebut darinya”.

Hadits tersebut menyerupakan tambang garam yang kandungannya sangat banyak dengan air yang mengalir. Hadits tersebut fokus bukan saja garam tapi tambangnya. Penarikan kembali oleh Rasulullah adalah alasan larangan dari sesuatu milik umum termasuk dalam hal ini tambang yang kandungannya terlalu banyak untuk dimiliki individu.

Rasulullah bersabda: “Manusia berserikat dalam air, api, dan padang gembalaan “. (HR. Abu Ubaid)
Air, api, dan padang gembalaan adalah sumber penghidupan bagi suatu masyarakat. Dalam konteks modern saat ini api adalah sumber energi termasuk gas.

Pengelolaan SDA dalam Islam tidak bisa dilepaskan dari penerapan Islam secara totalitas karena memang sektor ekonomi dalam hal pengelolaan SDA saling terkait dengan sistem lain dan berakar dari sistem kehidupan. Selama sistem kehidupan kita masih berpijak pada sistem sekuler maka momok persoalan gas akan terus terjadi. Dengan sisitem Islam tidak akan ada kelangkaan dan mahalnya gas. Gas berupa jargas akan bisa dinikmati gratis bagi semua masyarakat kenapa tidak.
Wallahua’lam…

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Menangis di Negeri Agraris

Read Next

Fenomena Crosshijaber Produk Kapitalis Liberalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *