Hujan Tidak Berbarokah?

Oleh: Ananda Dzulfikar (Anggota Komunitas Sahabat Taat Nganjuk)

Rasanya masih belum hilang dalam ingatan beberapa waktu kemarin pada musim kemarau terakhir rasa panas, tanah kekeringan higga ketersediaan air yang langka. Memaksa warga desa berduyun-duyun menuju area ditengah persawahan dengan membawa timba dan mengantre demi mendapatkan air bersih. Musim hujan sepertinya datang agak terlambat pada beberapa tahun ini sehingga memaksa pemerintah mengambil tindakan untuk membuat hujan buatan dibeberapa daerah. Walaupun demikian tetap saja masih banyak daerah yang mengalami kekeringan yang parah.

Rintik hujan pun akhirnya turun dari langit, membuat semua masyarakat bergembira dalam menyambutnya. Saat itu mereka masih terlena dalam penyambutan turunnya hujan yang telah lama ditunggu. Menurut mereka hujan membawa barokah saat itu. Namun setelah beberapa minggu setelah turunnya hujan pertama secara tiba-tiba air bah datang tanpa diduga. Bencana pun tidak berhenti disitu, beberapa wilayah bahkan sering mengalami hujan disertai angina kencang mengakibatkan pohon tumbang dan rumah roboh. Di area pegununganpun longsor selalu menjadi bencana yang tak terelakkan bahkan sampai memakan korban jiwa. Masyarakatpun menyebut bahwa hujan membawa petaka saat itu.
Walaupun negeri ini sudah langganan banjir dan longsor, namun hal itu selalu dibarengi dengan tindakan preventif dalam menanggulanginya. Nyatanya apapun yang dilakukan tetap saja tidak ada hasilnya, malah justeru sebaliknya bencana ini menjadi semain habat dan dahsyat sehingga menimbulkan banyak kerugian material maupun nyawa.

Ternyata semuanya adalah peringatan
Dalam surah Al-A’rof ayat 96 yang artinya, “jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami maka kami siksa mereka sesuai yang telah mereka kerjakan”. Jadi panas dan hujan yang turun bisa menjadi dua arti jika kita mengetahui ayat peringatan dari Al Qur’an ini, bila itu dapat membahagiakan artinya itu adalah barokah sebaliknya jika ia datang sebagai bencana maka itu adalah peringatan dari sang Maha Pencipta akibat berpalingnya manusia dari aturan-aturannya.
Jika kita merenung sejenak mengaitkan ayat ini dan bencana yang terjadi akhir-akhir ini maka kita akan tahu apa penyebab dan solusi penyelesaiannya. Bukan hanya struktur bangunan yang kurang kuat, bukan hanya kurangnya fasilitas saluran air tapi lebih dari itu kezaliman yang sering dilakukan oleh manusia yang akhirnya berefek pada pengaturan kapitalistik yang rusak dari segi pengelolaan lingkungan dan merusak keimanan sehingga terciptalah kemaksiatan yang luar biasa yang kemudian mengundang bencana-bencana dahsyat lainnya. Maka dari itu istighosah, shalat tolak bala’, istiqhfar bersama tidak bisa menunggu bencana datang terlebih dahulu. Harusnya kita tersadar sebelum bencana-bencana dahyat lainnya datang lebih besar. Wallahu a’lam bishhawwab.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pilu di Tahun Baru

Read Next

Benarkah Sarjana Biang Koruptor?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *