Homo Seksual Mendominasi Pengidap HIV/AIDS

Oleh: Hamsia (ibu rumah tangga

Kendari (ANTARA) – Dinas Kesehatan Kota Kendari mencatat selama periode Januari-Juli 2019 terdapat 24 orang pengidap HIV/AIDS didominasi lelaki seks lelaki atau homo seksual. Dari ke-24 orang pengidap HIV itu 12 orang merupakan homo seksual atau LSL, 2 orang ibu rumah tangga, dan 8 orang Hetero serta 2 orang bisex. Data ini dikumpul dari dua tempat pemeriksaan HIV, yakni RSUD Kota Kendari dan Puskesmas Lepo-Lepo, Kota Kendari, kata Kadikes Kendari drg. Rahminingrum, Senin.

Disayangkan, kecenderungan didunia nyata. Telah banyak perilaku Lesby, Gey, Bisex Transgender (LGBT) yang seolah-olah merasa aman kalau pelaku tersebut berhubungan sesama jenis. “Justru penyakit mengancam mereka, kalau mereka melakukan hubungan intim katakanlah oral seks, ada luka, dan jika darah ketemu darah maka HIV itu bisa langsung tertular,” jelasnya.

Sejauh ini pemerintah cenderung mendukung keberadaan kaum LBGT. Beberapa tahun lalu Presiden Jokowi menegaskan bahwa aparat Kepolisisan harus melindungi kaum LGBT (BBC.com, 19/10/2016). Menteri Agama RI Lukman Hakim dengan lebih lunak megatakan behwa pelaku LGBT perlu diayomi, bukan dikucilkan. Menteri Agama bahkan pernah menghadiri orasi kebudayaan yang berisi penghargaan kepada sejumlah Forum LGBTIQ pada bulan Agustus2016 lalu.
Sejatinya, keberadaan homo seksual ini nyata jadi ancaman bukan saja secara sosial, tetapi juga medis. Sampai hari ini hubungan sesama seksual sejenis yang dilakukan kaum gay masih menjadi penyebab utama penularan HIV/AIDS. Di 21 kota besar di AS, satu dari lima pria gay dan biseksual terinfeksi HIV/AIDS, dan separuh dari mereka tak menyadari telah terinveksi HIV/AIDS (Reuters.com, 23/9/2018)
HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 yang dihancurkan, kekebalan tubuh akan semakin lemah, sehingga rentan diserang berbagai penyakit.

Virus HIV pertama kali ditemukan pada tahun 80-an. Total kematian akibat virus ini mulai dari pertama kali ditemukan hingga saat ini yaitu 25 juta jiwa telah menjadi korban. Di Indonesia sendiri virus HIV ditemukan pertama kali di Bali pada tahun 1987 pada turis asing asal Belanda. Secara kumulatif yang paling banyak terinfeksi virus HIV yaitu mulai umur 20-29 tahun.
Merujuk pada kebijakan WHO UNAIDS di bawah KPAN, solusi dari penyebaran HIV/Aids yaitu dengan mengadakan program kondomisasi, jarum suntik steril dan substitusi metadon.

Pertama, kampanye kondomisasi yaitu menggunakan kondom 100% dan menggaungkan slogan save sex ( seks aman). Di tahun 90-an pemerintah juga mengampanyekan ABCD. Abstain (tidak melakukan seks bebas), Be faithul (setia pada satu pasangan), Condyomization (menggunakan kondom), no Drug (tidak konsumsi narkoba). Namun saat ini pemerintah melakukan kampanye kondomisasi yang pada faktanya tidak menurunkan laju grafik penularan virus HIV malah justru laju grafik tersebut semakin meningkat. Bahkan kondomisasi menjadi pintu penyebaran HIV.

Kedua,substitusi metadon yaitu zat yang diberikan sebagai pengganti narkoba. Metado merupakan turunan dari NAPZA dengan kekuatan lebih lemah pun harganya lebih murah. Walaupun demikian metadon juga memberikan efek akditif (kacanduan) yang menyebabkan gangguan mental dan kehilangan kontrol sehinggan menimbulkan penyimpangan seks.

Ketiga,penggunaan jarum suntik steril yaitu upaya agar pengguna NAPZA aman jika menggunakan jarum suntik. Tapi pada faktanya kasus narkoba merupakan kasus mafia yang internasional yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan penggunaan jarum suntik steril.

Ketiga solusi ini merupakan solusi sekuler yang mempunyai kepentingan tertentu dan merupakan solusi yang pragmatis. Padahal LGBT bukan ancama biasa, gerkan ini seharusnya sudah dianggap sebagai ancaman negeri ini. Kerusakan yang ditimbulkan telah nyata. LGBT bukan hanya mengubah perilaku sosial, tetapi juga menyebarkan wabah HIV/AIDS yang sangat berbahaya.

Solusi yang lebih solutif untuk menangani permasalahan ini yaitu kita sebagai seorang muslim maka sudah seharusnya kita kembali kepada solusi yang diberikan oleh Islam. Islam mempunyai solusinya diantaranya:
Pertama, solusi preventif (pencegahan). Solusi preventif yang dilakukan dengan menghilangkan praktik seks bebas, mengharamkan laki-laki dan perempuan berkhalwat, mengharamkan zina, melarang penyimpangan seksual (LGBT), melarang laki-laki dan perempuan melakukan perbuatan yang dapat merusak masyarakat (pornoaksi, pornografi dan lainnya), mengharamkan minuman keras dan narkoba, mewajibkan amar makruf nahi mungkar (individu, masyarakat dan negara) serta negara memberikan sanksi bagi pelaku zina. Bagi pezina yang sudah menikan maka dihukun rajam (dilempari batu sampai mati). Bagi pezina yang belum menikah maka dihukum cambuk. Bagi homoseksual maka dihukum mati. Bagi pengguna narkoba dihukum cambuk.

Kedua, solusi kuratif. Negara mempunyai peranan yang sangat penting yaitu dengan tegas memberikan hukuman bagi pelaku zina, homoseksual dan pengguna narkoba. Untuk para penderita HIV/AIDS yang tertular secara tidak langsung dan tidak melakukan maksiat, maka wajib untuk dikarantina. Saat dikarantina harus dipastikan bahwa kebutuhan mereka terpenuhi, berinteraksi dengan orang lain di bawah pengawasan ketat, mengupayakan edukasi untuk melindungi dirinya dan keluarga. apabila ada penyimpangan seks maka dihukum setimpal dan diberikan pembinaan ruhani.
Maka bisa disimpulkan bahwa hikum yang diturunkan oleh Sang Pencipta adalah yang paling terbaik dan solusi bagi setiap permasalahan apapun. Wallahu a’lam bi shawab.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

BPJS : Pemalakan VS Pelayanan

Read Next

Kamukah Para Pasukan Buzzer-Nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *