Breaking News :

October 14, 2019

Fenomena Bulan Syuro, Bulan yang Sakral?

Oleh: Ananda Dzulfikar

Bulan Muharram atau yang lebih dikenal dengan sebutan bulan Suro oleh suku jawa telah tiba. Huru hara kedatangannyapun disambut beragam oleh masyarakat kita. Ada yang menyambutnya dengan mengadakan karnaval-karnaval islami sebagai penyambutan tahun baru islam. Ada yang telah menyiapkan agenda dengan klenik-klenik kejawen seperti pemandian pusaka-pusaka yang diagungkan, siraman/pemandian gadis-gadis berambut panjang di daerah tertentu, meramaikan punden dan lain sebagainya.

Tentu tidak hanya ritual saja yang ramai dipersiapkan, diluar itu banyak sekali pantangan-pantangan yang menjadi rumor dan masyur di kalangan masyarakat. Mulai dilarangnya menikah di bulan ini, pindah rumah, bepergian jauh, hingga rumor akan ada banyak petaka yang bermunculan. Parahnya masyarakatpun kemudian menilai bulan ini sebagai bulan penuh dengan kesialan.

Awal mula penamaan Suro
Penamaan Suro sendiri merupakan muasal dari penanggalan jawa yang diciptakan oleh Sultan Agung raja Mataram pada abad ke-16 M berdasarkan kalender hijriyah. Itulah sebabnya tanggal 1 Suro selalu bertepatan dengan 1 Muharam. Kala itu Sultan Agung berinisatif mengubah sistem kalender Saka yang merupakan kalender suku jawa asli dan hindu.
Ketika kita melihat kembali ke dalam sejarah bangsa kita pada masa awal masuknya islam ke nusantara, masyarakatnya masih sangat kental dengan aktivitas yang berbau kemusrikan. Berbagai metode pun telah dilakukan para pendakwah islam agar agama islam bisa diterima oleh masyarakat nusantara. Mereka mencoba untuk merubah pengagungan terhadap makhluk ke penyembahan kepada Allah.

Karena medan dakwah yang berbeda kemudian mereka mencoba untuk mendakwahkan islam melalui apa yang dekat dengan masyarakat setempat, hanya saja mereka tidak merubah total aktivitas mereka tetapi mengubah isi atau konten yang ada pada ritual, seperti budaya wewayangan, lagu-lagu jawa, aktivitas peringatan kematian dan termasuk penamaan bulan Suro ini. jadi karena sulit sekali memisahkan aktivitas adat masyarakat agar meninggalkannya, para pedakwah ini masih tetap membiarkan mereka untuk melakukannya asalkan kata-kata mantra diganti dengan zikir. Pengagungan dari pohon besar/jin diganti kepada penyembahan kepada Allah semata. Hanya saja perubahan masyarakat islam masih belum totalitas.

Dari hasil dakwah seperti adalah langkah mudah agar islam bisa diterima di masyarakat dan diharapkan perkembangan kedepan masyarakat pemeluk islam suatu saat bisa memahami bahwa semua aktivitas mereka yang tidak bersandar pada islam atau tidak ada dalam peraturan islam dapat mereka tinggalkan. Seharusnya ini menjadi PR generasi sekarang untuk memutus kegiatan adat yang tidak ada sandaran dalam islam atau bahkan yang bertentangan dengannya. Bodohnya, kita malah menganggap itu semua adalah warisan nenek moyang yang harus tetap dilestarikan.

Kemusyrikan bukanlah sebuah warisan
Ternyata fenomena bulan Suro sendiri telah mendarah daging termasuk pada diri seorang muslim. Hingga ada perasaan takut yang tidak bersandar pada keimanan. Mengalihkan rasa takut pada benda, makhluk atau fenomena yang bersifat khayal pada zat yang selayaknya kita takuti yaitu Allah Swt.

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita sadar dan percaya bahwa risky, jodoh dan ajal hanya berada ditangan Allah bukan di tangan adat atau imajinasi masyarakat yang tak berdalil. Karena sesuatu yang tak berdalil itu bersumber dari bisikan syetan yang sengaja menyesatkan manusia yang berusaha menjauhkan kita dari pada-Nya.
Hidup di negara kapitalis memang merugikan, disamping pengikisan keimanan yang terus menerus terjadi masyarakat terus dituntut agar tetap melestarika adat nenek moyang dibarengi adanya penggenjotan daerah potensi pariwisata. Menjadikan kemusrikan hidup kembali, padalah masyarakat sudah lama meninggalkan, karena adanya agenda pemerintah ini terbuka kembalilah pintu kemusyrikan.
Anggapan bahwa adat nenek moyang merupakan sebuah warisan yang harus dilestarikan adalah anggapan yang sangat bodoh yang dimiliki seorang yang mengaku muslim, apalagi adat tersebut masih lekat dengan kemusyrikan.

Allah Swt berfirman dalam surah Al Baqarah ayat165:
“Dan sebagian manusia ada orang yang menjadikan tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat besar cintanyakepada allah. Sekiranya orang-orang yang zalim itu melihat, ketika mereka menyaksikan azab bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat adzab-Nya (niscaya mereka akan menyesal)”.

Dan dalam surah An Nisa’ ayat 116:
“sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang Ia kehendaki. Dan barang siapa mempersekutukan dengan Allah, maka sungguh dia telah tersesat jauh sekali”. [OM]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Sistem Islam Menguatkan Bangunan Keluarga

Read Next

Euforia Demokrasi Sebatas Jatah Mentri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *