Cara Islam Melindungi Generasi

Oleh: Nina Marlina (Komunitas Pena Islam Jatinangor)

Industri perfilman khususnya di tanah air terus menggempur kaula muda dengan produksi filmnya. Sudah pasti isinya tidak jauh dari nuansa cinta dan romantika anak muda. Kali ini film berjudul SIN akan menghiasi layar bioskop. Banyak orang yang penasaran dan ingin menontonnya. Namun ternyata isinya mengundang kontroversi.

Pasalanya, film ini mengisahkan bahwa kekasih sang wanita adalah kakaknya sendiri. Film garapan sutradara Herwin Novianto ini diadaptasi dari novel tahun 2017 dengan judul yang sama.

Film menjadi salah satu hiburan bagi kebanyakan orang. Termasuk para remaja. Selain ngefans dengan para pemainnya, alur cerita pun selalu membuat penonton penasaran. Maka tidak heran mereka akan berebut tiket bioskop demi film yang tayang perdana. Jika isinya positif, tentu sangat bagus. Apalagi jika para penonton pun bisa mengambil manfaat dan hikmah. Namun sebaliknya jika berisi konten negatif, sangat berbahaya ketika ditiru oleh penonton. Apalagi jika isinya romantisme, bahkan berbau seks.

Selama ini tontonan telah berdampak negatif terhadap pergaulan remaja. Seks bebas kian marak. Masa depan mereka semakin mengkhawatirkan. Perilaku dan akhlak mereka makin hancur.

Barat telah berhasil menjalankan misinya. Umat Islam terutama kaum mudanya telah terjebak dalam perangkap Barat. Film adalah salah satu sarana barat menghancurkan generasi muda Islam. Setelah gagal menyerang kaum muslim secara fisik, mereka beralih kepada perang lewat pemikiran dan budaya. Dengan cara ini barat menyodorkan gaya hidup barat yang sekuler dan liberal. Gaul bebas, minuman keras, LGBT, dan termasuk inses (hubungan sedarah).

Terbukti  film menjadi senjata ampuh merusak perilaku para remaja.
Kasus demi kasus bermunculan. Seolah semua menjadi kebiasaan dan wajar. Terutama kasus perzinaan. Bermula dari tontonan dan pacaran. Selain itu, semua ini terjadi akibat dari penerapan sistem demokrasi sekuler. Dalam sistem ini, aturan dibuat oleh manusia. Tidak peduli dosa atau tidak, yang penting mendatangkan manfaat atau materi. Film yang merusak generasi menjadi tumbuh subur. Akhirnya kemaksiatan pun dibiarkan bahkan dilegalkan. Sistem kehidupan yang dijauhkan dari agama memunculkan berbagai permasalahan. Membuka aurat, gaul bebas, dan aborsi adalah beberapa contoh permasalahan yang terjadi.

Tentu fakta di atas sangat mengerikan dan mengkhawatirkan. Kita pasti ingin terbebas dari hal-hal demikian. Kita pun sangat berharap agar generasi selanjutnya dapat berubah menjadi baik. Agar semua itu terwujud, perlu ada sebuah sistem yang lebih baik. Sistem yang menggantikan dan merubah aturan yang ada. Islam adalah sebuah ideologi dan sistem terbaik untuk mengatur kehidupan manusia. Aturannya sempurna dan paripurna. Mampu menjadikan manusia khususnya para pemuda berakhlak mulia.

Hal ini dikarenakan Islam memiliki 3 pilar dalam penerapan hukumnya. Pertama, ketakwaan individu. Suasana keimanan dan islami menjadikan individu sholeh dan bertakwa. Kehidupan yang jauh dari keburukan dan kemaksiatan. Kedua, kontrol atau pengawasan masyarakat. Amar makruf nahi mungkar dilakukan semata-mata kewajiban. Juga menunjukkan kasih sayang terhadap sesama muslim. Mencegah mereka dari berbuat keharaman. Pilar terakhir adalah penerapan sanksi oleh negara. Hukum berlaku tegas bagi para pelaku kemaksiatan. Sifat dari sanksi adalah jawabir (sebagai penebus dosa), dan jawazir (bersifat jera).

Akhirnya, terjadinya kemaksiatan akan sangat minim. Inilah cara yang dilakukan Islam melalui negara untuk melindungi generasi. Alhasil, lahirlah pemuda pemudi yang bertakwa juga berprestasi. Mereka berkontribusi dalam kemajuan dan peradaban Islam. Namanya pun terukir indah dalam sejarah gemilang hingga kini.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Kamukah Para Pasukan Buzzer-Nya

Read Next

Move On Kaffah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *