BPJS : Pemalakan VS Pelayanan

Oleh: Indri

“Maaf kamar kosong”, “Maaf RS ini tidak menyediakan fasilitas yang ibu butuhkan”, “Harus deposit dulu jika tidak sesuai kelas BPJS” ini adalah kalimat yang acap kali disampaikan pada peserta BPJS yang hendak berobat pada fasilitas kesehatan yang dituju. Belum lagi sikap jutek yang sering dikeluhkan pasien dari dokter atau perawat yang melayani saat tahu mereka menggunakan BPJS. Sehingga banyak dari pasien yang harus berpindah RS untuk mendapatkan tempat yang mau menerima mereka.
Belum lagi peraturan baru yang saat ini mulai dijalankan untuk peserta BPJS. Ada mekanisme penagihan dengan door to door. Setidaknya ada 3200 penagih yang disiapkan BPJS untuk mendatangi para peserta yang menunggak (bisnis.tempo.co). Meskipun pada fakta di lapangan banyak juga penagih yang tidak mendapatkan hasil atau uang pembayaran dari peserta.

Kenapa hal ini terjadi ? Karena sebagian besar peserta BPJS adalah masyarakat menengah kebawah, yang dahulunya memiliki harapan bahwa dengan tergabung ke BPJS mereka akan lebih mudah dan murah untuk mengakses kesehatan.
Banyak masyarakat yang tergabung di keanggotaan BPJS tidak memahami, bahwa mereka akan terbebani iuran sepanjang hidupnya, terlepas mereka sakit atau tidak. Bagi rakyat miskin, untuk biaya hidup sehari-hari saja mereka kesulitan apalagi membayar iuran rutin setiap bulannya. Meskipun ada penyederhanaan bahwa setiap hari mereka hanya menyisihkan kurang dari Rp 5.000,- setiap peserta. Tapi terpikirkah oleh kita jika jumlah anggota keluarganya 3 orang saja untuk BPJS kelas 3 maka setiap bulan harus membayar Rp 76.500 sebelum kenaikan, jika sudah naik akan menjadi Rp 126.000,-

Di tengah kondisi perekonomian yang sulit iuran tersebut sungguh memberatkan rakyat. Serasa rakyat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah tidak mampu tetapi tetap dipalak juga. Mekanisme pengaturan seperti ini muncul dari sistem kapitalime yang menjadikan uang sebagai basis berfikir. Bukan lagi pelayanan atau pelindung bagi masyarakat. Maka BPJS ini adalah efek dari penerapan sistem kapitalisme tersebut. Oleh karena itu jika sistem ini tetap dilanggengkan, akan muncul peraturan-peraturan lain yang dapat menyengsarakan rakyat.

Solusi satu-satunya agar rakyat dapat terjamin kehidupannya, adalah mencampakan aturan yang dibuat oleh manusia yang hanya berorientasi pada dunia. Menuju aturan dari Illahi Robbi yaitu sistem Islam dalam setiap lini kehidupan yang diemban oleh negara. [OM]

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Demokrasi Menjamin Kebebasan Tapi Anti Kritik!

Read Next

Homo Seksual Mendominasi Pengidap HIV/AIDS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *