Benarkah Sarjana Biang Koruptor?

Oleh : Ananda Dzulfikar (Anggota Komunitas Sahabat Taat Nganjuk

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebutkan dunia perguruan tinggi sedang menjadi terdakwa dari kekacauan tata kelola pemerintahan dan munculnya korupsi dimana-mana. Hal itu dikemukakan Mahfud MD saat menyampaikan Stadium Generale pada acara wisuda Sarjana dan Magister Universitas Islam Kediri, Sabtu, 21 Desember 2019.
Pidato pak Menteri tentu seolah menjadi cambuk bagi kita yang lulusan sarjana. Bagaimanapun tentu kita menolak tuduhan tersebut. Korupsi seolah melekat pada siapa saja yang berpendidikan tinggi. Padahal di kampus dulu kita tidak pernah diajarkan perbuatan keji tersebut oleh dosen. Baik sekolah maupun kampus merupakan tempat mulia untuk mencari ilmu yang bermanfaat.
Lalu mengapa banyak dari para koruptor kebanyakan dari kaum berdasi dan berpakaian rapi? Tentu kita tidak bisa mengaitkan antara kenampakan dan kelakuan. Atau menjudge seseorang dari latar belakang pendidikannya. Bagaimanapun juga keduanya tidak ada kaitannya. Seharusnya semakin tinggi ilmu maka ia faham mana yang baik dan benar.

Sistem sekuler penyebabnya
Masih ingatkah kita dengan pernyataan Mahfud MD yang menyatakan bahwa malaikatpun bisa menjadi iblis jika masuk kedalam system Indonesia tahun 2013 lalu?. Sekarang kita kaitkan akar masalah terjadinya korupsi di negeri ini. Jika kita teliti ternyata yang melakukan korupsi bukan hanya para kaum intelektual jebolan universitas ternama saja, kariawan biasa atau bahkan tukang parkirpun juga bisa melakukan korupsi. Lebih parah lagi pejabat yang berlabel ustad dan ulama’ pun juga banyak yang tersandung masalah korupsi. Semua itu bukan sekedar masalah title maupun akhlak seseorang. Melainkan karena system yang membuka lebar peluang untuk melakukan korupsi. Ditambah lagi perbuatan ini dilakukan dengan kompleks secara berjamaah atas nama hadiah. Maka setinggi apapun pendidikan orang itu, seberiman pun orang itu, sebaik dan sejujur apapun orang itu jika masuk kedalam arus sistem negara ini maka ia akan terus digoda yang namanya korupsi dengan bentuk yang beragam. Jawabannya hanya ada dua yaitu ikut arus atau ia keluar darinya karena tidak kuat melihat kekacauan yang ada.
Sungguh miris merasakan kelakuan para pejabat negeri ini. Ditengah kesulitan yang diahadapi rakyat, mereka masih tega memakan uang yang rakyat amanahkan kepadanya. yang melakukan korupsi hanya beberapa orang saja. Jika saja yang buruk itu adalah personalnya saja maka sang ulama’ tidak akan ikut-ikutan juga. Sudah terbukti dengan penerapan system sekuler biang kemaksiatan terus tumbuh subur, bahkan terus memakan korban. Dengan penerapan system ini keimanan terus-menerus tergadaikan. Jika membuka aib para pejabat lainnya sudah pasti esoknya ia akan hilang, sungguh dilemma bukan?

Hanya dengan penerapan system islam korupsi mampu diperhanguskan. Celah untuk melakukan korupsi akan tertutup rapat. Karena dengan system islam keimanan individu tak akan pernah tergadaikan bahkan justeru cenderung meningkat sehingga tidak akan tergiur dengan suap. Tujuan bekerja tidak lain hanya satu, yaitu meraih ridho Allah. Selain itu hukuman bagi koruptor tidak main-main beratnya, menjadikan mereka berpikir ribuan kali untuk sekedar melakukan korupsi yang merupakan kenikmatan sementara tapi hukumannya dibawa sampai kea lam baka. Wallahua’lam bisshowwab.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Hujan Tidak Berbarokah?

Read Next

Virus Corona? Ini Sikap Pemerintah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *