Apakah Kesetaraan Gender Akan Dapat Menjawab Problematika Kemiskinan Keluarga ?

Oleh : Indri Ngesti Rahayu

Berdasarkan penelitian Yayasan Tunas Alam Indonesia tahun 2015, di Desa Wanasaba, Kabuaten Lombok Timurterdapat lebih dari 350 anak (0-18 tahun) yang ditinggal oleh ibu atau bapaknya dan bahkan keduanya untuk bekerja menjadi TKI (bbc.com). dilansir dari berita yang sama, bahwa di Lombok Timur terdapat 250 desa dengan kondisi yang serupa. Tidak bisa dibayangkan, berapa jumlah anak terlantar dikarenakan himpitan ekonomi. Ini hanya satu fakta terkait problem keluarga dan generasi akibat faktor ekonomi.

Kemiskinan merupakan kondisi yang akrab dengan penduduk Indonesia. Dengan jumlah penduduk ratusan juta, Indonesia memiliki angka kemiskinan yang tinggi. Untuk mengatasi problem tersebut digencarkan berbagai program. Salah satu program yang cukup besar pengarusannya adalah pengarusan kesetaraan gender. Dimana perempuan dituntut untuk memiliki peran yang sama dengan laki-laki dalam berbagai bidang termasuk ekonomi. Maka lahirlah program Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP). Dimana perempuan dituntut untuk terjun dalam ranah ekonomi guna mengentaskan masalah kemiskinan.
Akankah solusi kesetaraan gender dapat menjawab problem kemiskinan ?

Ide kesetaraan gender justru membangun kontradiksi antara peran laki-laki dan perempuan. Faktanya di banyak negara yang mengemban ide kesetaraan gender banyak ditemukan kemiskinan, kekerasan, ketidak amanan, eksploitasi, ketidakadilan serta penindasan yang dialami oleh perempuan yang semakin memburuk. Lebih jauh lagi upaya penyetaraan gender ini telah mengakibatkan tekanan dan kesengsaraan yang lebih besar terhadap perempuan.
Islam menjawab problem kemiskinan perempuan

Islam memberikan nilai tinggi kepada perempuan. Islam memandang perempuan sebagai kehormatan, oleh karenanya Islam menetapkan sejumlah hukum untuk menjaga kehormatan perempuan. Penjagaan Islam terhadap perempuan berupa hukum pakaian, wali, mahram, waris dan segala hukum yang berkaitan dengan fungsi ibu dan pengatur rumah tangga semisal jaminan nafkah dan hadhanah (pengasuhan anak), itulah yang membuat perempuan berharga dan terhormat.
Islam pun memberikan ruang yang luas kepada perempuan untuk berkiprah di tengah umat. Islam memberikan hak kepada perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi, perdagangan, pertanian, industri dan melakukan berbagai transaksi di dalamnya. Ia boleh memiliki dan mengembangkan harta.

Oleh karenanya solusi akan permasalahan kemiskinan yang menyangkut perempuan bukan pada keterwakilan suara perempuan di pemerintahan ataupun parlemen yang menyuarakan kepentingan perempuan. Bukan pada UU perlindungan perempuan dengan dasar liberalisasi agama, bahkan bukan dengan kepala negara perempuan. Solusinya ada pada penerapan aturan Islam yang memiliki visi penjagaan dan perlindungan pada fungsi perempuan. Aturan Islam yang mulia ini hanya akan bisa diterapkan dalam sistem Khilafah.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Jaring Pengaman Sosial di Tengah Wabah

Read Next

BPJS, Pengalihan Fungsi Negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *